SUKABUMI – Pagi di Desa Perbawati tak pernah benar-benar sunyi. Di balik kabut tipis kawasan Sukabumi, kebun-kebun warga perlahan menggeliat padi menguning, pisang berjejer rapi, sayuran tumbuh segar, dan aroma kopi mulai menyatu dengan udara pegunungan. Dari sanalah denyut ekonomi desa ini berawal.
Melansir akun resmi Pemkab Sukabumi. Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, kini tengah menapaki jalan pembangunan dengan satu keyakinan: kekuatan desa ada pada potensi lokalnya.
Pertanian dipilih sebagai poros utama, dengan empat komoditas unggulan yang terus digarap serius kopi, padi, sayuran, dan pisang.
Namun langkah ini bukan sekadar soal menanam dan memanen. Lebih dari itu, Desa Perbawati sedang merancang sebuah ekosistem ekonomi berkelanjutan, di mana hasil kebun warga tidak berhenti di sawah, tetapi bergerak hingga ke pasar.
Kaur Perencanaan Desa Perbawati, Asep Amir Hamzah, menyebut pertanian bukan hal baru bagi warganya. Ia telah menjadi bagian dari sejarah hidup masyarakat Perbawati. Letak geografis desa yang berada di jalur wisata Pondok Halimun pun menjadi nilai tambah tersendiri.
“Potensi kami bukan hanya pertanian, tapi juga pariwisata. Namun saat ini kami memilih fokus lebih dulu pada penguatan komoditas pertanian, terutama kopi, padi, pisang, dan sayuran,” ujar Asep, dikutif dari akun resmi Pemkab Sukabumi, Rabu (5/2/2026).
Dari empat komoditas tersebut, kopi dan padi dinilai paling siap melaju lebih cepat. Keduanya telah melibatkan UMKM lokal dan BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi desa.
Di sektor kopi, Desa Perbawati menggandeng UMKM Baru Halimun dan melahirkan produk lokal bernama Kopi Purbawati. Kopi jenis arabika ini diolah langsung dari hasil kebun petani setempat, mulai dari panen hingga menjadi biji kopi siap seduh.
“Kami fokus di pengolahan. Kopi dari petani kami serap, lalu diolah dan dipasarkan ke kedai-kedai kopi di Sukabumi. Pasar kami masih lokal, karena kebutuhan lokal saja sudah cukup tinggi,” jelas Asep.
Pemilihan arabika bukan tanpa alasan. Desa Perbawati berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, kondisi ideal bagi kopi arabika untuk tumbuh optimal dan menghasilkan karakter rasa yang kuat.
Tak kalah menjanjikan, sektor padi juga tengah dipersiapkan menjadi identitas baru desa. Melalui BUMDes, pemerintah desa merancang produksi Beras Desa Perbawatibukan sekadar beras kemasan, tetapi beras dengan nilai kesehatan dan keberlanjutan.
“Target kami bukan hanya beras kemasan, tapi beras sehat. Prosesnya bertahap sampai benar-benar minim bahkan bebas pestisida,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah desa aktif memberikan penyuluhan kepada petani. Edukasi diarahkan pada pengurangan penggunaan pestisida dan penerapan pola tanam ramah lingkungan.
“Branding beras Perbawati sebagai produk sehat tidak bisa instan. Harus dimulai dari cara tanam petani,” tambah Asep.
Di luar kopi dan padi, Desa Perbawati juga menatap masa lalu yang ingin dihidupkan kembali Pisang Selabintana. Varietas pisang yang pernah melegenda dengan rasa manis dan kualitas unggulan ini kini masuk dalam daftar prioritas pengembangan.
“Kami ingin semua potensi ini kembali hidup. Harapannya, produk Desa Perbawati semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” pungkasnya.
Dari kebun-kebun sederhana hingga kemasan produk bernama desa, Perbawati sedang membuktikan bahwa pembangunan tak selalu harus datang dari luar. Kadang, ia tumbuh pelan dari tanah yang sudah lama setia digarap warganya.
Ade












