SUKABUMI — Di tengah derasnya arus modernisasi dan krisis pangan global, Kasepuhan Gelar Alam di Kabupaten Sukabumi justru berdiri tegak sebagai simbol kemandirian, ketahanan pangan, dan kelestarian adat.
Bukan sekadar kampung adat, Gelar Alam adalah bukti hidup bahwa tradisi bisa berjalan seiring dengan keberlanjutan.
Salah satu fakta paling mencengangkan dari kasepuhan ini adalah kemampuan menyimpan stok pangan hingga puluhan tahun.
Padi hasil panen tidak langsung dijual atau dikonsumsi habis, melainkan disimpan rapi di leuit (lumbung padi tradisional) dengan sistem adat yang telah diwariskan turun-temurun.
“Padi adalah titipan alam, bukan sekadar komoditas,” menjadi prinsip hidup masyarakat Kasepuhan Gelar Alam.
Stok Pangan Puluhan Tahun, Tanpa Bahan Kimia.
Menariknya, padi yang disimpan di leuit tetap awet meski tanpa pengawet kimia. Rahasianya terletak pada ritme tanam satu kali setahun, pemilihan benih lokal, serta larangan keras memperjualbelikan padi adat.
Sistem ini membuat masyarakat Gelar Alam nyaris tak pernah mengalami krisis pangan, bahkan saat daerah lain terdampak.
Ketahanan pangan di kasepuhan ini bukan hasil teknologi canggih, melainkan buah dari kearifan lokal yang konsisten dijaga.
Tradisi Adat yang Masih Kental dan Hidup
Kehidupan masyarakat Kasepuhan Gelar Alam sangat lekat dengan adat istiadat.
Mulai dari tata cara bertani, membangun rumah, hingga pola hidup sehari-hari semuanya berpijak pada nilai leluhur. Aturan adat bukan sekadar simbol, melainkan pedoman hidup yang dihormati bersama.
Tokoh adat memegang peran sentral sebagai penjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Di sinilah filosofi hidup kasepuhan terasa nyata, bukan sekadar cerita.
Seren Taun: Puncak Syukur dan Identitas Budaya
Salah satu momen paling sakral sekaligus ikonik adalah Seren Taun Kasepuhan Gelar Alam. Upacara adat ini menjadi penanda berakhirnya masa panen dan bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah.
Seren Taun bukan hanya ritual, tetapi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, dan solidaritas sosial. Alunan musik tradisional, arak-arakan padi, serta doa-doa adat menjadi pengingat bahwa kesejahteraan tidak lahir dari eksploitasi, melainkan dari keseimbangan.
Warisan yang Relevan untuk Masa Depan
Di saat dunia sibuk mencari solusi ketahanan pangan dan keberlanjutan, Kasepuhan Gelar Alam telah mempraktikkannya sejak ratusan tahun lalu.
Mereka mengajarkan bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan itu sendiri.
Kasepuhan Gelar Alam bukan peninggalan masa lalu, melainkan jawaban masa depan.
Ade












