SUKABUMI — Bulan Ramadan 1447 H pada Sabtu, 21 Februari 2026, menghadirkan denyut yang berbeda di pertigaan jalan kereta Kampung Karang Sirna, Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Menjelang Magrib, kawasan sederhana itu menjelma ruang temu warga ramai, hangat, dan penuh warna.
Di antara deru kendaraan dan sesekali gemuruh kereta melintas, warga memadati sisi jalan untuk ngabuburit. Anak-anak berlarian kecil sambil menenteng balon, remaja bercengkerama di tepi trotoar, sementara para orang tua berburu takjil untuk berbuka puasa.
Baca juga : Penguatan Keamanan Pariwisata Sukabumi: Kolaborasi Strategis Dispar dan PT Jasa Tania Tbk
Aroma gorengan yang baru terangkat dari wajan bercampur dengan manisnya kolak dan segarnya es buah, membentuk mozaik rasa khas Ramadan.
“Setiap sore pasti ramai. Alhamdulillah, jualan jadi lebih cepat habis,” ujar salah seorang pedagang cilok yang sejak awal Ramadan membuka lapak di lokasi tersebut.
Fenomena ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Pertigaan rel Karang Sirna seakan menjadi simpul sosial dadakan ruang publik yang lahir dari kebiasaan dan kebutuhan.
Di tengah keterbatasan ruang terbuka, warga menciptakan panggung kebersamaan mereka sendiri. Ngabuburit di sini bukan hanya soal menunggu adzan, tetapi tentang merayakan kebersamaan dalam kesederhanaan.
Ramadan tahun ini memberi berkah tersendiri bagi pelaku UMKM lokal. Deretan pedagang kaki lima menawarkan beragam jajanan: gorengan, kue basah, sate usus, hingga minuman kekinian. Perputaran ekonomi mikro terasa hidup, menghadirkan harapan di tengah tantangan harga kebutuhan pokok yang kerap naik jelang puasa.
Namun di balik keramaian, ada pesan penting tentang ketertiban dan keselamatan. Mengingat lokasi berada di sekitar jalur rel dan persimpangan jalan, warga diimbau tetap berhati-hati dan menjaga kebersihan lingkungan. Ramadan seharusnya membawa berkah, bukan risiko.
Karang Sirna mungkin hanya sebuah sudut kecil di Kabupaten Sukabumi. Tapi setiap senja Ramadan, ia berubah menjadi cermin wajah masyarakat guyub, sederhana, dan saling menguatkan.
Di sana, waktu terasa melambat. Detik-detik menuju Magrib bukan sekadar hitungan jam, melainkan perjalanan hati untuk kembali pada makna: sabar, syukur, dan berbagi.
Imran
Tonton juga video youtube kami tentang – Selasa Menyapa Warga di sini











