MillionBrainHub.com – Jika ada satu malam yang lebih menegangkan dari pengumuman undian arisan ibu-ibu, mungkin itu adalah rapat akhir tahun koperasi. Dan benar saja, Rapat Akhir Tahun Koperasi Desa Merah Putih Desa Sasagaran digelar dengan penuh khidmat, lengkap dengan laporan keuangan yang dibuka terang-benderang tanpa sensor ala drama Korea.
Baca juga : Iwan Ridwan Dorong Ekosistem Agroindustri dan Pariwisata di Musrenbang Cibadak 2026
Acara ini dihadiri oleh Ketua Koperasi Ridwan Ali Yusup beserta bendahara, jajaran anggota, Pemerintah Desa, serta perwakilan Dinas Koperasi dan UKM yang diwakili oleh Nia Eliana selaku Kabid PIPPK.
Ya, ini bukan rapat biasa. Ini rapat yang berani membuka seluruh isi dapur keuangan.
Transparansi Keuangan: Dari Uang Anggota Hingga Manfaat Nyata
Dalam sesi yang bisa dibilang paling ditunggu—bahkan mungkin lebih ditunggu daripada sesi konsumsi—Ridwan Ali Yusup memaparkan seluruh perjalanan uang koperasi.
Tak ada angka yang disembunyikan. Tak ada lembaran yang dilipat. Semua dipaparkan di muka umum:
- Berapa simpanan anggota,
- Ke mana dana berputar,
- Hingga bagaimana hasilnya kembali menjadi kebermanfaatan untuk anggota.
Beberapa anggota tampak mengangguk-angguk puas. Sebab di era ketika transparansi sering hanya jadi jargon di spanduk, koperasi ini memilih menampilkannya di layar proyektor.
Pesan Tegas Kabid PIPPK: Kekeluargaan, Tapi Tetap Profesional
Dalam sambutannya, Kabid PIPPK Nia Eliana memberikan pengingat yang sederhana namun dalam makna.
“Koperasi memang berasaskan kekeluargaan. Tapi kekeluargaan jangan juga semua dianggap mudah. Tetap harus profesional.”
Sebuah kalimat yang terdengar ringan, namun cukup untuk membuat beberapa peserta mendadak duduk lebih tegak. Karena memang, di banyak tempat, kata kekeluargaan sering kali menjadi alasan toleransi yang kelewat batas.
Di sinilah keseimbangan diuji: antara rasa memiliki dan tata kelola yang sehat.
Musyawarah Arah Koperasi: Simpan Pinjam Jadi Primadona
Memasuki sesi musyawarah, diskusi mulai menghangat. Beberapa anggota mengusulkan agar koperasi mulai membuka program simpan pinjam.
Usulan itu bukan tanpa alasan. Di tengah kebutuhan ekonomi yang makin dinamis, akses pembiayaan menjadi kebutuhan nyata.
Setelah diskusi yang cukup hidup, akhirnya disepakati:
- Pinjaman terkecil: Rp1.000.000
- Pinjaman terbesar: Rp5.000.000
Tampak sederhana. Tapi bagi sebagian anggota, nominal tersebut bisa menjadi pembuka pintu usaha, tambahan modal, atau sekadar penolong di saat mendesak.
Pertanyaan Sakral: Bagaimana Jika Pinjaman Macet?
Namun suasana yang awalnya optimis mendadak berubah hening ketika sesi tanya jawab memasuki wilayah yang bisa disebut “sakral”.
Ketua koperasi, Ridwan Ali Yusup, melontarkan satu pertanyaan yang membuat ruangan sejenak terdiam:
“Bagaimana jika pinjaman itu macet?”
Pertanyaan yang mungkin sederhana, tetapi selalu menjadi momok dalam dunia simpan pinjam.
Karena di atas kertas, semua tampak lancar.
Dalam proposal, semua terlihat meyakinkan.
Namun dalam praktik, realita kadang punya jalan cerita sendiri.
Di sinilah profesionalisme yang tadi diingatkan kembali menemukan konteksnya.
Antara Ideal dan Realitas
Rapat akhir tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi refleksi bahwa koperasi bukan hanya tempat mengumpulkan uang, melainkan wadah membangun kepercayaan.
Transparansi sudah ditunjukkan.
Arah baru sudah disepakati.
Tinggal satu yang akan diuji: konsistensi.
Apakah simpan pinjam akan menjadi solusi?
Atau justru ujian berikutnya?
Yang jelas, Desa Sasagaran telah memulai langkahnya dengan diskusi terbuka dan keberanian bertanya.
Dan untuk jawaban lengkap dari pertanyaan sakral tersebut, tonton video lengkapnya di sini.
