MillionBrainHub.com – “Komite Ekonomi Kreatif ngapain aja sih?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin juga pernah muncul di kepala masyarakat. Maklum, namanya terdengar keren: Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi. Tapi kemudian muncul pertanyaan klasik: kerjanya apa?
Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, kami berbincang dengan Ketua dan Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi, Iwan Sunarya dan Iman Firmansyah.
Baca juga : 4 Tahun Menembus Bukit dan Lembah, Warga Ciumbara Gotong Royong Buka Jalan 1,2 Kilometer
Jawabannya ternyata cukup panjang. Dan yang menarik, pekerjaan mereka bukan sekadar menggelar acara lalu selesai ketika panggung dibongkar.
Bukan Sekadar Bikin Event
Menurut Iwan Sunarya dan Iman Firmansyah, salah satu tugas Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi adalah menambah nilai tambah terhadap produk ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan kapasitas para pelakunya.
Artinya, produk kreatif masyarakat tidak berhenti pada tahap “bisa bikin”.
Tetapi bagaimana produk tersebut bisa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, punya pasar, punya identitas dan bisa berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Sebab membuat produk bagus saja sekarang belum tentu cukup.
Kalau produknya bagus tetapi tidak dikenal, bisa kalah dengan produk yang biasa saja tetapi promosinya luar biasa.
Di sinilah ekonomi kreatif bermain.
Ada 21 Subsektor Ekonomi Kreatif
Ekonomi kreatif ternyata memiliki cakupan yang sangat luas.
Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi menyebut terdapat 21 subsektor yang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
Mulai dari teknologi baru seperti kecerdasan buatan atau AI, blockchain, big data hingga keamanan siber.
Kemudian ada konten digital, termasuk content creator, affiliator dan live commerce.
Ada pula sulih suara, seperti voiceover dan dubbing.
Belum selesai.
Ada modifikasi otomotif, pengembang permainan atau game, aplikasi, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual atau DKV, desain produk dan fesyen.
Selanjutnya terdapat subsektor film, animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan dan seni rupa.
Dengan kata lain, kalau selama ini ekonomi kreatif dianggap sebatas kerajinan tangan atau kuliner, cakupannya ternyata jauh lebih luas.
Bahkan dunia digital yang sehari-hari ada di genggaman kita juga masuk di dalamnya.
Baru Tiga Bulan, Sudah Mulai Mendata
Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi saat ini masih tergolong baru.
Iwan Sunarya dan Iman Firmansyah baru sekitar tiga bulan menjalankan amanah tersebut.
Untuk tahap awal, mereka memilih langkah yang cukup mendasar tetapi penting: mendata para pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Sukabumi.
Mengapa pendataan penting?
Karena bagaimana pemerintah dan stakeholder mau membuat program yang tepat jika pelakunya saja belum diketahui secara jelas?
Jangan sampai membuat program ekonomi kreatif tetapi pelakunya malah sibuk bertanya, “Saya termasuk ekonomi kreatif bukan?”
Pendataan diharapkan bisa menjadi dasar untuk mengetahui potensi, kebutuhan dan persoalan para pelaku ekonomi kreatif di berbagai wilayah Kabupaten Sukabumi.
Fakta Mengejutkan: Sukabumi Disebut Jadi Penyerap Tenaga Kerja Ekraf di Jabar
Dari proses awal tersebut, muncul satu fakta yang cukup menarik.
Menurut Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Sukabumi disebut menjadi daerah dengan daya serap tenaga kerja ekonomi kreatif di Jawa Barat.
Angka dan data rinci tentu menjadi bagian penting yang perlu terus diperkuat melalui pendataan dan verifikasi.
Namun jika potensi tersebut benar-benar dikelola dengan baik, ekonomi kreatif bisa menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi daerah.
Sukabumi bukan hanya punya gunung, pantai dan hasil pertanian.
Di balik itu semua ada manusia-manusia kreatif yang menghasilkan produk, karya dan jasa.
Pertanyaannya sekarang tinggal satu:
Apakah kreativitas tersebut mampu diubah menjadi nilai ekonomi yang lebih besar?
Dorong Pelaku Ekraf Punya HAKI
Selain meningkatkan nilai tambah produk, Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi juga mendorong para pelaku ekonomi kreatif untuk memperhatikan Hak Kekayaan Intelektual atau HAKI.
Ini penting.
Sebab karya kreatif bukan sekadar barang yang bisa dijual.
Di dalamnya terdapat ide, desain, merek, inovasi dan identitas yang memiliki nilai.
Jangan sampai seseorang sudah susah payah menciptakan karya, kemudian orang lain tinggal meniru.
Yang membuat karya tidur larut, yang meniru malah bangun pagi membawa keuntungan.
Karena itu, perlindungan melalui HAKI menjadi salah satu perhatian Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi.
Sejalan dengan Visi “Sukabumi Mubarakah”
Visi dan misi Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi juga diarahkan agar sejalan dengan visi pemerintah daerah, yaitu Sukabumi Mubarakah.
Harapannya, ekonomi kreatif tidak hanya menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Mulai dari pelaku UMKM kreatif, seniman, musisi, fotografer, kreator digital, pelaku kuliner, fesyen, kriya hingga pelaku industri berbasis teknologi.
Semua memiliki ruang untuk tumbuh.
Tantangannya tentu bukan sedikit.
Pendataan harus berjalan.
Pembinaan harus berkelanjutan.
Akses pasar perlu diperluas.
Dan yang tidak kalah penting, para pelaku ekonomi kreatif harus mampu naik kelas.
Karena ekonomi kreatif bukan sekadar soal “kreatif”.
Kreatif tanpa pasar bisa jadi hobi. Kreatif dengan perlindungan HAKI dan pasar bisa menjadi industri.
Lalu, sebenarnya Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi ngapain saja?
Jawabannya mulai terlihat: mendata, mendorong nilai tambah, memperkuat pelaku ekonomi kreatif, mendorong HAKI, sekaligus membangun ekosistem agar kreativitas masyarakat bisa menghasilkan nilai ekonomi.
Penasaran dengan penjelasan lengkap Ketua dan Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi?
Tonton video lengkapnya di sini. Bisa Dapat Penghasilan Modal Kreatif Doang? Komite Ekonomi Kreatif Siap Jadi Wadah
