Marwan Hamami Buka Suara! Gemuruh Golkar Sukabumi Makin Kencang, Aklamasi atau Demokrasi yang Sedang Dikunci?

Marwan Hamami, Bupati Sukabumi Periode 2016-2021 & 2021-2026

MillionBrainHub.com – Setelah cukup lama memilih diam, akhirnya Marwan Hamami, Bupati Sukabumi dua periode (2016–2021 dan 2021–2026), angkat bicara soal dinamika yang belakangan mengguncang internal Partai Golkar Kabupaten Sukabumi.

Baca juga : Rapat Internal DKUKM Sukabumi Perkuat Koordinasi untuk Tingkatkan Pelayanan Koperasi dan UMKM

Bukan sekadar soal siapa menjadi ketua, tetapi tentang bagaimana proses politik di tubuh partai berlambang pohon beringin itu berjalan. Dari cerita pengusungan Asep Japar sebagai calon Bupati Sukabumi hingga isu aklamasi yang kini ramai diperbincangkan, Marwan seolah membuka kembali lembaran yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik di ruang politik.

Kalau politik itu panggung, maka kali ini tirainya sedikit dibuka.

Dari Tiga Nama, Kok Bisa Jadi Lima?

Marwan memulai ceritanya saat proses penjaringan calon Bupati Sukabumi yang diusung Golkar pada Pilkada lalu.

Menurutnya, saat rapat pleno DPD Golkar Kabupaten Sukabumi, hasil musyawarah hanya menghasilkan tiga nama calon yang akan diajukan.

Namun, ketika hasil pleno tersebut dibawa ke tingkat DPW Jawa Barat hingga DPP Partai Golkar, situasinya berubah.

Tiba-tiba jumlah nama yang diusulkan bertambah menjadi lima calon.

Marwan mengaku mengetahui proses itu, namun memilih tidak menyebut siapa pihak yang berperan dalam perubahan tersebut.

“Ya kita tidak usah menyebut siapa namanya, tapi wajah-wajahnya sering kita lihat.”

Kalimat itu memang tidak menyebut nama siapa pun. Tetapi dalam politik, terkadang satu kalimat pendek justru lebih berisik daripada pidato satu jam.

Pertanyaannya sederhana: jika keputusan pleno berubah di tengah jalan, lalu sebenarnya suara kader di daerah berhenti dihitung di mana?

Dicopot Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Marwan juga mengungkap cerita lain yang menurutnya cukup mengganjal.

Ia mengaku sempat mengalami upaya pencopotan sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Sukabumi saat dirinya masih menjabat Bupati Sukabumi dan hanya tinggal sekitar dua bulan lagi mengakhiri masa jabatan.

Bahkan ketika itu sempat muncul wacana Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) untuk mengganti kepemimpinannya.

Yang membuatnya lebih prihatin bukan semata persoalan jabatan.

Melainkan sikap sebagian kader yang selama bertahun-tahun dibina dan dibesarkan bersama justru memilih diam.

Marwan menyebut, saat itu tidak ada surat resmi dari DPP Partai Golkar yang menjadi dasar pencopotannya.

Jika benar demikian, tentu publik berhak bertanya: keputusan sebesar itu sebenarnya lahir dari mekanisme organisasi, atau sekadar dari arah angin politik yang sedang bertiup?

Di dunia politik, ternyata bukan hanya pohon yang bisa tumbang. Kadang akarnya pun diminta diam.

Aklamasi? Marwan: Pendaftaran Saja Belum Dibuka

Isu yang kini paling ramai adalah kemungkinan pemilihan Ketua DPD Golkar Kabupaten Sukabumi dilakukan secara aklamasi.

Bagi Marwan, kondisi saat ini belum tepat untuk menggunakan mekanisme tersebut.

Menurutnya, aklamasi bisa saja diterapkan apabila calon yang maju merupakan sosok yang sudah pernah memimpin dan memiliki rekam jejak yang jelas sehingga seluruh kader memang sepakat tanpa perlu kompetisi.

Namun kondisi sekarang berbeda.

Menurutnya, para kandidat yang muncul merupakan wajah baru dalam perebutan kursi Ketua DPD.

Karena itu, ia menilai proses demokrasi seharusnya tetap dibuka agar seluruh kader potensial memperoleh kesempatan yang sama.

Yang membuatnya heran, isu aklamasi justru sudah santer terdengar bahkan sebelum tahapan pendaftaran resmi dibuka.

“Sibuk pengkondisian aklamasi, pendaftaran saja belum dibuka. Saya tahu itu.”

Kalimat tersebut menjadi sinyal bahwa dinamika internal Golkar Sukabumi belum selesai. Bahkan mungkin baru memasuki bab yang lebih menarik.

Sebab kalau pertandingan belum dimulai tetapi pemenangnya sudah seolah diketahui, publik tentu berhak bertanya: ini kompetisi atau pengumuman hasil?

“Sedihnya Bukan Karena Jabatan”

Ketika ditanya apakah dirinya sedih melihat kondisi Golkar Kabupaten Sukabumi saat ini, Marwan memberikan jawaban yang cukup tenang.

Ia mengaku tidak sedih terhadap keadaan yang terjadi karena menganggap itulah realitas politik.

Namun ketika ditanya kepada siapa rasa sedih itu ditujukan, jawabannya berubah lebih personal.

Marwan mengaku justru merasa prihatin melihat kader-kader yang selama ini pernah dibesarkan dan dibimbing olehnya kini lebih memilih mengikuti arus dibanding menyuarakan apa yang dianggap benar.

Pernyataan tersebut menjadi penutup yang cukup menggambarkan bagaimana hubungan emosional antara seorang senior dengan kader-kader yang pernah berjalan bersamanya.

Dalam politik, loyalitas memang sering diuji. Bedanya, ada yang bertahan karena keyakinan, ada pula yang bertahan karena arah angin.

Golkar Sukabumi Sedang Menghadapi Ujian Demokrasi

Terlepas dari siapa yang nantinya memimpin DPD Golkar Kabupaten Sukabumi, satu hal yang menjadi perhatian publik adalah bagaimana proses itu berlangsung.

Demokrasi internal partai bukan hanya soal memilih ketua, tetapi juga menjadi cermin kualitas organisasi dalam menghargai suara kader.

Jika semua memang telah disiapkan menuju aklamasi sebelum ruang kompetisi dibuka, maka kritik tentu akan terus bermunculan.

Sebaliknya, jika seluruh kader diberi kesempatan yang sama untuk bertarung secara sehat, Golkar justru memiliki peluang menunjukkan bahwa regenerasi politik masih berjalan sesuai mekanisme organisasi.

Kini publik tinggal menunggu: apakah pohon beringin akan tumbuh semakin kokoh karena akarnya kuat, atau justru bergoyang karena ranting-rantingnya terlalu sibuk menentukan arah angin?

Tonton video lengkapnya disini : BAGAIMANA MEWAKILI RAKYAT❗Hasil Musyawarah Partai Pun Sampai Dikhianati? Marwan Hamami Buka Suara

Exit mobile version