Desa Lain Mengeluh Anggaran, Kades Ganteng Sukajaya Bicara Kemandirian

Deden Gunaefi ( Kepala Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi )

MillionBrainHub.com – Di tengah keluhan klasik soal minimnya anggaran desa, ada cerita yang terasa seperti “anomali” dari pelosok Kabupaten Sukabumi. Saat sebagian pemerintahan desa mungkin masih berkutat pada rumus lama: anggaran besar = pembangunan jalan, sebuah desa justru mencoba membuktikan bahwa kemandirian tak selalu lahir dari angka miliaran rupiah.

Hal itu mengemuka dalam podcast “Lembur Pakuan Ada Di Sukabumi? Kades Ganteng Buktikan Desa Bisa Mandiri Tanpa Berpaku Pada Anggaran!”, bersama Kepala Desa Sukajaya, Deden Gunaefi.

Dalam perbincangan tersebut, Kang Deden – yang oleh sebagian warga disebut “kades ganteng” (tentu ini urusan persepsi publik, bukan hasil survei nasional) – berbicara soal satu tantangan yang sedang dihadapi banyak desa: anggaran yang makin ketat.

Desa Dulu Dapat Miliaran, Sekarang Tinggal Ratusan Juta. Lalu Bisa Apa?

Pertanyaan yang cukup panas muncul di tengah obrolan: jika biasanya desa menerima dana hingga miliaran rupiah, sementara kini hanya berkisar Rp350 jutaan, desa bisa apa?

Baca Juga : DPRD dan Pemkab Sukabumi Sahkan Dua Raperda Strategis, Perkuat Tata Kelola Lahan dan Transportasi

Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Sebab di banyak tempat, pembangunan desa sering kali identik dengan besarnya transfer anggaran. Jalan rusak? Tunggu anggaran. Irigasi? Tunggu bantuan. Program pemberdayaan? Ya… tunggu lagi.

Namun menurut Kang Deden, pola pikir seperti itulah yang justru perlu mulai diubah.

Alih-alih menjadikan keterbatasan anggaran sebagai alasan stagnasi, Desa Sukajaya mencoba memainkan kartu lain: kemandirian desa melalui optimalisasi potensi lokal.

Karena pada akhirnya, desa tidak bisa terus hidup dengan mentalitas “menunggu transfer pusat turun dulu, baru bergerak”. Kalau begitu terus, jangan-jangan yang mandiri malah grup WhatsApp perangkat desa saat membahas proposal.

Desa Mandiri: Antara Mimpi dan Keberanian Mengubah Pola Pikir

Dalam podcast tersebut, Kang Deden menyinggung bagaimana pemerintah desa harus mulai berani berpikir lebih kreatif. Anggaran yang terbatas bukan berarti pembangunan otomatis berhenti.

Justru di titik itulah kreativitas aparatur desa diuji.

Mulai dari membaca potensi wilayah, memberdayakan masyarakat, hingga memanfaatkan peluang ekonomi lokal menjadi bagian dari strategi agar desa tidak hanya hidup dari dana transfer.

Sebab faktanya, banyak desa memiliki potensi besar, namun kadang masih terjebak pada satu kebiasaan: lebih semangat membahas proposal dibanding membangun sistem ekonomi desa yang berkelanjutan.

Dan mungkin, inilah poin menarik dari obrolan bersama Kepala Desa Sukajaya tersebut. Bahwa desa mandiri bukan sekadar jargon seminar atau tulisan besar di baliho program kerja.

Tetapi tentang keberanian mengambil langkah meski kondisi fiskal tidak sedang “gemuk”.

Lembur Pakuan di Sukabumi?

Judul podcast yang menyebut istilah “Lembur Pakuan” tentu memantik rasa penasaran. Sebuah istilah yang memberi kesan tentang desa ideal: kuat, berdaya, dan punya identitas.

Apakah Desa Sukajaya sedang menuju ke sana?

Tentu waktu yang akan menjawab. Namun satu hal yang menarik dari obrolan ini adalah munculnya perspektif berbeda: desa ternyata masih bisa bergerak meski tidak sedang dimanjakan angka miliaran rupiah.

Karena kalau ukuran keberhasilan desa hanya ditentukan dari besarnya dana, mungkin yang paling hebat bukan kepala desa—melainkan aplikasi transfer bank.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi daerah, kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa kemandirian desa bukan perkara anggaran semata, tetapi soal kepemimpinan, kreativitas, dan keberanian mengubah kebiasaan lama.

Tonton Video Lengkapnya Disini : Lembur Pakuan Ada Di Sukabumi? Kades Ganteng Buktikan Desa Bisa Mandiri Tanpa Berpaku Pada Anggaran!

Exit mobile version