DBA Dan BPP Cisaat, Sukabumi Siap Produksi Beras Premium

Andi ( Penyuluh Pertanian ) kanan, Suwarto ( Doa Bangsa Agrobisnis ) tengah

MillionBrainHub.com – Doa Bangsa Agrobisnis resmi membuka ruang kolaborasi dengan Balai Penyuluh Pertanian Cisaat demi satu mimpi yang terdengar sederhana tapi cukup bikin tengkulak mulai batuk kecil: gabah petani Sukabumi dihargai layak dan diolah menjadi beras premium khas daerah sendiri.

Pertemuan yang digelar di gedung BPP Cisaat itu mempertemukan petani, penyuluh pertanian, hingga pelaku usaha beras. Dari pihak DBA hadir Suwarto, sementara BPP Cisaat diwakili oleh Andi selaku penyuluh pertanian.

Baca juga : Pelatihan MTU Sukabumi Dibuka, Upaya Tingkatkan Keterampilan dan Tekan Pengangguran

Dalam suasana yang lebih mirip forum “ayo ngobrol dulu” dibanding rapat penuh jargon PowerPoint, DBA menyampaikan keinginannya untuk berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi dalam menyerap gabah petani secara lebih terstruktur.

Harga Gabah Sama dengan Bulog, Tapi Ada Catatannya

DBA menawarkan harga gabah basah Rp6.500 per kilogram, angka yang setara dengan harga acuan Bulog. Tentu saja, seperti hubungan tanpa kepastian, ada syarat dan kriteria yang harus dipenuhi.

Menurut Suwarto, kualitas gabah menjadi kunci utama bila Sukabumi ingin benar-benar dikenal sebagai penghasil beras premium.

“Kalau ingin menghasilkan beras premium, ya gabahnya juga harus premium. Di sinilah pentingnya kolaborasi dengan penyuluh pertanian,” ujarnya.

DBA sendiri bukan datang dengan proposal tipis dan janji manis semata. Mereka sudah memiliki RMU (Rice Mill Unit) modern di Cibadak dengan kapasitas besar yang mampu menyerap gabah petani dalam skala besar.

Cibadak kini bukan hanya dikenal sebagai jalur macet menuju Bogor saat akhir pekan, tetapi juga mulai diproyeksikan sebagai salah satu pusat pengolahan beras modern di Sukabumi.

Penyuluh Pertanian Malah Semangat, Bukan Malah Pusing

Menariknya, kolaborasi ini justru disambut positif oleh pihak penyuluh pertanian. Andi mengaku tidak merasa terbebani dengan target kualitas gabah yang lebih tinggi.

Sebaliknya, ia merasa adanya kerja sama dengan DBA menjadi dorongan baru bagi penyuluh untuk bekerja lebih maksimal mendampingi petani di lapangan.

“Biasanya penyuluh cuma ditanya pupuk datang kapan. Sekarang mulai bicara kualitas, standar premium, sampai peluang pasar. Ini bagus,” kata Andi.

Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi cukup penting. Sebab di lapangan, keresahan bukan cuma milik petani. Penyuluh pertanian pun sering menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan cuaca, pola tanam yang tidak konsisten, hingga ekspektasi hasil panen yang kadang ingin setara sawah Jepang tapi modal masih level “nanti dulu”.

Mimpi Besar: Beras Premium Ya Beras Sukabumi

Kolaborasi antara DBA dan BPP Cisaat ini membawa satu target besar: menjadikan beras premium identik dengan Sukabumi.

Sebuah cita-cita yang terdengar ambisius, tapi bukan mustahil. Apalagi jika petani, penyuluh, pelaku usaha, dan pemerintah bisa duduk bersama tanpa saling lempar tanggung jawab seperti pertandingan tenis meja birokrasi.

DBA juga mengajak seluruh petani untuk aktif berkolaborasi dan membuka ruang diskusi bersama.

Intinya sederhana: ayo ketemu, ngobrol, dan cari kesepakatan yang sama-sama menguntungkan petani.

Karena pada akhirnya, petani tidak butuh seminar motivasi terlalu banyak. Yang mereka butuhkan adalah pasar yang jelas, harga yang masuk akal, dan hasil panen yang benar-benar dihargai.

Tantangan di Lapangan Masih Banyak

Meski semangat kolaborasi mulai terbangun, jalan menuju beras premium Sukabumi tentu tidak semulus iklan pupuk di televisi.

Masih ada keresahan petani soal biaya produksi, cuaca, hingga kestabilan harga. Di sisi lain, penyuluh pertanian juga menghadapi tantangan tersendiri saat mendampingi petani di lapangan.

Lalu apa sebenarnya keresahan para penyuluh pertanian saat bertugas? Dan bagaimana strategi DBA bersama BPP Cisaat membangun ekosistem beras premium Sukabumi?

Tonton video selengkapnya di sini.

Exit mobile version