Seren Taun Kasepuhan Girijaya ke-199, Camat Cidahu: Warisan Budaya Harus Dijaga dan Dikembangkan

Puncak acara Seren Taun Kasepuhan Girijaya. |Foto: Diki
Puncak acara Seren Taun Kasepuhan Girijaya. |Foto: Diki

SUKABUMI,MILLIONBRAINHUB.COM – Kasepuhan Girijaya, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, kembali menggelar ritual adat tahunan yang megah. Mengusung tema “Sedekah Bumi Seren Taun Nampa Taun Mapag Taun Muharram 1448 H”, puncak acara pada tahun 2026 ini menjadi momentum penting. Aksi budaya tersebut sekaligus menegaskan keteguhan warga dalam melestarikan adat istiadat yang telah bertahan selama hampir dua abad.

Simbol Syukur dan Keteguhan Budaya

Camat Cidahu, Tamtam Alamsyah, menjelaskan bahwa Seren Taun merupakan agenda wajib bagi masyarakat adat setempat. Ritual ini berfungsi sebagai simbol rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas melimpahnya hasil bumi. Selain itu, acara ini juga menjadi bentuk penghormatan tertinggi terhadap warisan para leluhur.

Baca juga ; Jembatan Gantung Prima Jantake Resmi Beroperasi, Harapan Baru bagi Warga Sasagaran

“Pelaksanaan Seren Taun tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-199. Tradisi ini menjadi bukti nyata keteguhan, konsistensi, dan kecintaan masyarakat adat dalam menjaga nilai-nilai budaya di tengah arus modernisasi,” ujar Tamtam bangga.

Desa Wisata dengan Potensi Budaya Unggulan

Lebih lanjut, Tamtam memaparkan bahwa Desa Girijaya kini telah resmi menyandang status sebagai desa wisata. Ketetapan ini berdasarkan Surat Keputusan Bupati Sukabumi. Desa tersebut mengelola empat destinasi wisata unggulan, dan salah satunya adalah Kampung Adat Girijaya yang menjadi pusat ritual.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sukabumi memberikan dukungan penuh terhadap agenda tahunan ini. Pemkab menilai tradisi kasepuhan bukan sekadar identitas bangsa, melainkan juga aset ekonomi yang menjanjikan. Jika dikelola dengan baik, sektor wisata budaya ini mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar secara signifikan.

Selanjutnya, Tamtam menitipkan pesan khusus kepada generasi muda atau para incu putu. Ia mengajak mereka untuk aktif merawat adat istiadat agar tidak punah tergerus zaman. “Budaya leluhur harus tetap menjadi identitas, kebanggaan, sekaligus pemersatu masyarakat,” tambahnya.

Selama prosesi berlangsung, panitia menggelar berbagai kegiatan yang sarat makna spiritual dan sosial, antara lain:

  • Bakti Sedekah Bumi: Ritual penyerahan hasil bumi secara simbolis.
  • Aksi Gotong Royong: Lambang persatuan dan kekompakan warga adat.
  • Pameran Kearifan Lokal: Menampilkan cara masyarakat menjaga keseimbangan alam.

Melalui konsistensi yang terjaga, tradisi turun-temurun ini diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan adat istiadat Sukabumi ke panggung yang lebih luas.

Adv

Jangan lupa tonton youtube kami tentang : TERPANCING EMOSIBaku Hantam Sebelum Naik Octagon – SUKABUMI NYERENTENG VOL 2

Exit mobile version