Wisata Karang Para, Siap Bangkit atau Sekadar Seremonial?

Wisata Karang Para Desa Kebonmanggu

MillionBrainHub.com – Setelah kurang lebih dua tahun terbengkalai dan lebih sering jadi lokasi nostalgia daripada destinasi, Wisata Karang Para Desa Kebonmanggu akhirnya mulai dibersihkan untuk dihidupkan kembali. Gotong royong pun digelar, lengkap dengan sapu, cangkul, dan harapan yang sempat berdebu.

Baca juga : Reses di GOR Pabuaran, Suara Warga Menggema di Awal Tahun 2026

Berlokasi di Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunung Guruh, Karang Para dulu bukan sekadar tebing dan panorama. Ia adalah primadona lokal yang sempat membuat kantong warga ikut “naik kelas”.

Kepala Desa dan Camat Turun Gunung

Kepala Desa Kebonmanggu, Rasinta, tampak sumringah melihat kawasan wisata yang lama tertidur itu kini kembali disentuh aktivitas. Senyum beliau seolah berkata, “Akhirnya, bukan cuma kenangan yang dibersihkan.”

Tak ketinggalan, Camat Gunung Guruh turut mengapresiasi kehadiran Dinas Pariwisata yang datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga ikut kerja bakti gotong royong bersama warga.

Menurut Ali Iskandar, Kepala Dinas Pariwisata, membangun itu mudah, tapi mempertahankan jauh lebih sulit. Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, namun sering kali baru disadari setelah rumput tumbuh lebih tinggi dari papan nama destinasi.

“Membangun itu mudah, mempertahankan itu yang sulit,” ujarnya, mengingatkan bahwa wisata bukan sekadar diresmikan, lalu ditinggalkan.

Dikelola Pokdarwis, Harapan Baru Karang Para

Kini, pengelolaan Wisata Karang Para akan dipercayakan kepada Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Karang Para yang diketuai oleh Dede, sosok pemuda desa yang ingin mensejahterakan kampung halamannya melalui sektor pariwisata.

Langkah ini dinilai lebih membumi. Karena siapa lagi yang lebih peduli selain warga sendiri? Setidaknya, jika ada sampah tercecer, itu bukan “urusan pemerintah”, melainkan urusan bersama.

Kang Dede dan timnya diharapkan mampu menjadikan Karang Para bukan hanya ramai saat awal pembukaan, lalu sepi setelah euforia reda. Tantangannya jelas: konsistensi, promosi digital, serta pengelolaan yang profesional.

Nostalgia Masa Jaya: Rp1–2 Juta Sehari dari Wisatawan

Warga menyebut, di masa jayanya, Karang Para sangat ramai dikunjungi wisatawan. Dalam sehari, perputaran uang dari pengunjung bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta. Angka yang cukup membuat dapur ngebul lebih stabil dan warung kopi tak pernah benar-benar sepi.

Parkir penuh, warung laris, spot foto antre. Karang Para pernah berada di titik itu. Dan kini, harapannya bukan sekadar “kembali seperti dulu”, tapi bisa lebih baik dari sebelumnya.

Kebangkitan atau Ujian Kedua?

Kerja bakti sudah dimulai. Dukungan pemerintah ada. Pokdarwis siap bergerak. Pertanyaannya tinggal satu: apakah Karang Para benar-benar akan bangkit berkelanjutan, atau kembali viral sesaat lalu senyap perlahan?

Karena seperti kata Kadis Pariwisata, membangun itu mudah. Yang sulit adalah menjaga semangat tetap menyala saat spotlight mulai redup.

Bagi Anda yang rindu suasana tebing eksotis dan panorama alam yang memanjakan mata, Karang Para bersiap menyambut kembali. Semoga kali ini bukan sekadar seremoni bersih-bersih, tetapi awal babak baru pariwisata Desa Kebonmanggu.

Tonton keseruan videonya di sini dan lihat sendiri bagaimana Karang Para mulai bangkit dari tidur panjangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *