5 Fakta Unik Kasepuhan Gelar Alam Sukabumi, dari Padi Sakral hingga Tradisi Ratusan Tahun

Kasepuhan Gelar Alam di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. |Foto: ilustrasi
Kasepuhan Gelar Alam di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. |Foto: ilustrasi

SUKABUMI, Millionbrainhub.com – Di tengah kesejukan kawasan pegunungan Kabupaten Sukabumi, berdiri kokoh sebuah permukiman adat yang sangat memesona. Masyarakat setempat konsisten menjaga warisan leluhur secara turun-temurun hingga saat ini.

Kampung adat yang sarat nilai historis ini bernama Kasepuhan Gelar Alam. Pemukiman tradisional ini berada di kawasan Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Destinasi ini menyimpan pelbagai keunikan budaya yang sangat memikat para wisatawan. Warga lokal memaknai tanaman padi sebagai simbol kehidupan, menjaga alam sebagai ruang hidup, dan merawat tradisi sebagai pedoman moril.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sukabumi Ali Iskandar memperkenalkan potensi wisata budaya ini secara luas. Beliau membagikan daya tarik Kasepuhan Gelar Alam melalui saluran media publik resminya.

Baca juga ; Bebersih Mayunan dan Tilawah Qubro, Dispar Sukabumi Rawat Alam dan Perkuat Nilai Spiritual

“Namanya Kasepuhan Gelar Alam, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,” ungkap Ali Iskandar penuh rasa bangga.

Oleh karena itu, pemerintah daerah terus menggemakan narasi kebudayaan lokal ini. Langkah ini bertujuan memperkenalkan kearifan lokal Sukabumi kepada masyarakat dunia.

Berikut lima fakta unik Kasepuhan Gelar Alam yang sangat menarik untuk disimak:

1. Larangan Memperjualbelikan Hasil Panen Padi Masyarakat Kasepuhan Gelar Alam menempatkan tanaman padi pada kedudukan yang amat sakral. Warga tidak memandang bulir padi sekadar sebagai komoditas ekonomi yang bebas diperjualbelikan di pasar.

Padi merupakan simbol utama keberlangsungan hidup dan kehormatan seluruh warga adat. Warga menyimpan seluruh hasil panen di dalam lumbung tradisional demi menjamin ketahanan pangan bersama.

2. Tradisi Perpindahan Kampung Berbasis Petunjuk Adat Satu hal yang sangat unik adalah tradisi perpindahan lokasi pemukiman yang masyarakat sebut ngalalakon. Warga berpindah tempat berdasarkan ketentuan adat serta petunjuk spiritual pimpinan Kasepuhan.

Masyarakat adat mencatat bahwa proses perpindahan lokasi pemukiman ini telah berlangsung sebanyak 20 kali. Tradisi ngalalakon menegaskan identitas warga dalam memelihara tatanan kehidupan warisan para leluhur.

3. Pertahanan Sistem Cadangan Pangan Tradisional (Leuit) Selanjutnya, warga adat mengoperasikan leuit sebagai lumbung penyimpanan padi utama keluarga dan komunitas. Leuit terbukti ampuh menjaga ketersediaan pangan warga dalam menghadapi pelbagai kondisi cuaca.

Pengelolaan lumbung secara tradisional ini membuktikan keunggulan pengetahuan lokal masyarakat dalam merawat kemandirian. Sistem ketahanan pangan tradisional ini menjadi contoh nyata manajemen krisis yang sangat efektif.

4. Akulturasi Harmonis Tradisi Adat dan Teknologi Modern Di samping itu, warga Kasepuhan Gelar Alam tidak menutup diri dari perkembangan teknologi modern. Masyarakat memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang mengandalkan aliran sungai setempat untuk menghasilkan energi mandiri.

Kehadiran jaringan internet juga menunjukkan kesiapan warga adat dalam merangkul kemajuan zaman. Pelestarian budaya tradisional dapat berjalan berdampingan secara harmonis bersama teknologi modern.

5. Pelestarian Ritual Syukuran Budaya Seren Taun Sementara itu, tradisi Seren Taun menjadi ritual tahunan yang paling utama bagi warga adat. Acara kolosal ini merupakan bentuk rasa syukur mendalam atas kelimpahan hasil bumi dan perlindungan alam.

Sejarah adat mencatat bahwa ritual sakral ini terus berlangsung secara konsisten sejak tahun 1368. Seren Taun mempererat rasa persaudaraan warga sekaligus mewariskan nilai budi pekerti kepada generasi muda.

Kombinasi keunikan budaya tersebut menjadikan Kasepuhan Gelar Alam sebagai destinasi wisata unggulan Sukabumi. Para wisatawan dapat memetik pelajaran berharga mengenai filosofi hidup, ketahanan pangan, dan kelestarian alam.

Oleh sebab itu, Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi berkomitmen mendampingi tata kelola kawasan ini. Pemerintah daerah memastikan arus pariwisata tidak merusak tatanan adat yang sudah terjaga ratusan tahun.

“Lantas, dari lima fakta unik tersebut, mana yang paling membuat Anda kagum?” ajak Ali Iskandar menyapa publik.

Kemudian, pemda siap memfasilitasi promosi pariwisata kebudayaan ini ke tingkat internasional. Kehadiran wisatawan akan mendongkrak perekonomian warga lokal tanpa mengikis kearifan lokal setempat.

Akhirnya, Kasepuhan Gelar Alam berdiri anggun sebagai bukti keagungan budaya Nusantara. Kebanggaan masyarakat Sukabumi ini siap menginspirasi dunia lewat harmoni tradisi, alam, dan kemajuan teknologi.

Adv

Tonton video youtube kami : BERANI ! Pesan Terbuka Untuk Presiden Dari Petani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *