Bye Bye Pungli Ketenagakerjaan? Silent Center Sukabumi Jadi Senjata Digital Disnakertrans

Bincang Dengan Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kab Sukabumi

MillionBrainHub.com – “Mau kerja harus bayar?” Kalimat semacam itu seharusnya mulai masuk museum. Bukan karena pungutan liar atau pungli ketenagakerjaan sudah benar-benar punah, tetapi karena Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) sedang mencoba membuat jalur pencari kerja semakin transparan.

Kesimpulan itu mengemuka saat berbincang dengan Kabid Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kabupaten Sukabumi, Endang Sopyan, bersama sejumlah stafnya.

Baca juga : Spektakuler! Bendera Merah Putih 300 Meter Membentang di Pantai Karanghawu Sukabumi

Ada Eli Widyaningsih, Pengantar Kerja Ahli Muda; Indra Santika, Pengelola Data; Qodratullah Agam, Pengantar Kerja Ahli Pertama; serta Alpian Indra Gumilar, Pengantar Kerja Ahli Pertama.

Dari obrolan tersebut, satu hal menarik muncul: ternyata urusan mencari kerja di Kabupaten Sukabumi sudah punya “senjata digital” bernama Silent Center Sukabumi.

Dan kalau aplikasi ini benar-benar dimanfaatkan sebagaimana mestinya, mungkin sudah waktunya mengucapkan:

“Bye bye pungli ketenagakerjaan!”

Silent Center Sukabumi, Ketika Cari Kerja Tak Harus Keliling

Endang Sopyan menjelaskan, Bidang Penempatan Tenaga Kerja memiliki tugas membantu kepala dinas dalam melaksanakan sebagian urusan pemerintahan di bidang penempatan tenaga kerja.

Ruang lingkupnya cukup luas.

Mulai dari informasi pasar kerja, perluasan kesempatan kerja, pengelolaan izin mempekerjakan tenaga kerja asing (IMTA), hingga perlindungan pekerja migran.

Artinya, bidang ini bukan sekadar tempat masyarakat datang membawa map berisi fotokopi KTP, ijazah, pas foto, lalu bertanya, “Pak, ada lowongan?”

Di era digital, informasi lowongan pekerjaan semestinya bisa diperoleh dengan lebih mudah dan transparan.

Nah, di sinilah Silent Center Sukabumi mengambil peran.

Aplikasi yang saat ini masih berbasis website tersebut dirancang untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan secara langsung.

Konsepnya sederhana.

Pencari kerja membutuhkan informasi lowongan. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja. Maka keduanya dipertemukan melalui sistem.

Tidak perlu perantara yang tiba-tiba muncul dengan kalimat klasik:

“Kalau mau masuk, ada uang administrasinya.”

Nah, kalimat seperti itulah yang idealnya mulai pensiun.

Bikin Kartu Kuning Bisa dari Rumah

Salah satu layanan yang cukup menarik adalah pembuatan Kartu Kuning atau AK1.

Dulu, urusan administrasi pencari kerja identik dengan datang ke kantor, mengambil nomor antrean, menunggu, mengisi formulir, dan seterusnya.

Sekarang, melalui Silent Center Sukabumi, proses tersebut dapat dilakukan secara daring.

Dengan kata lain, bikin kartu kuning bisa dilakukan dari rumah.

Bahkan kalau mau sedikit bercanda, bisa sambil rebahan.

Asalkan jaringan internet tidak ikut rebahan.

Digitalisasi semacam ini bukan sekadar perkara gaya-gayaan memakai aplikasi. Jika sistem berjalan optimal, layanan digital dapat memangkas antrean, mengurangi tatap muka yang tidak perlu, sekaligus membuat proses pelayanan lebih terdokumentasi.

Dan semakin sedikit transaksi informal yang terjadi di luar sistem, semakin kecil pula ruang bagi pungutan yang tidak semestinya.

Aplikasi Anti-Pungli?

Menurut pihak Disnakertrans Kabupaten Sukabumi, Silent Center merupakan aplikasi yang memiliki konsep super anti-pungli.

Mengapa?

Karena aplikasi tersebut menghubungkan pencari kerja dengan perusahaan secara langsung.

Logikanya cukup sederhana.

Jika informasi lowongan tersedia secara terbuka dan pencari kerja dapat mendaftar melalui jalur resmi, maka ruang untuk “calo pekerjaan” seharusnya semakin sempit.

Tidak ada lagi cerita:

“CV-nya sini, nanti saya bantu masuk.”

Lalu beberapa hari kemudian:

“Untuk prosesnya ada biaya.”

Biaya apa?

Pertanyaan itu kadang justru lebih sulit dijawab daripada soal interview.

Digitalisasi setidaknya dapat membuat proses menjadi lebih terang. Siapa perusahaan yang membuka lowongan, apa persyaratannya, bagaimana proses pendaftarannya, dan bagaimana pencari kerja mengakses kesempatan tersebut bisa diarahkan melalui sistem resmi.

Pioneer Buatan Putra Daerah Sukabumi

Yang menarik, Silent Center Sukabumi bukan sekadar aplikasi yang dibuat untuk memenuhi tuntutan zaman.

Menurut informasi dari jajaran Disnakertrans, aplikasi ini merupakan pionir yang dibuat oleh putra daerah Sukabumi dan telah terkoneksi dengan Kementerian Ketenagakerjaan.

Ini tentu menjadi poin penting.

Di tengah kebiasaan menganggap teknologi harus selalu datang dari luar daerah, ternyata Sukabumi juga memiliki talenta yang mampu membangun sistem untuk kebutuhan daerahnya sendiri.

Kalau selama ini kita sering mendengar istilah putra daerah, jangan sampai istilah tersebut hanya dipakai ketika musim politik tiba.

Kalau memang bisa membuat aplikasi yang digunakan untuk pelayanan publik, justru di situlah istilah putra daerah memiliki makna yang lebih konkret.

Lalu Kenapa Masih Ada Keluhan Pungli?

Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting.

Kalau sudah ada Silent Center Sukabumi, kenapa masyarakat masih mengeluhkan adanya pungutan dalam proses mencari pekerjaan?

Ini pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan mengatakan, “Sudah ada aplikasinya.”

Sebab teknologi hanyalah alat.

Aplikasi bisa dibuat secanggih apa pun, tetapi kalau masyarakat tidak tahu cara menggunakannya, perusahaan tidak aktif menggunakannya, atau masih ada pihak yang memilih jalur belakang, persoalannya tentu belum selesai.

Karena itu, keberadaan Silent Center perlu dibarengi dengan sosialisasi, pengawasan, transparansi dan edukasi kepada pencari kerja.

Masyarakat harus tahu bahwa mencari pekerjaan melalui jalur resmi tidak semestinya harus membayar kepada pihak yang tidak berwenang.

Dan kalau ada pihak yang menjanjikan pekerjaan dengan imbalan uang, masyarakat juga perlu berani mempertanyakan legalitas proses tersebut.

Jangan Sampai Aplikasinya Digital, Punglinya Masih Manual

Di sinilah pekerjaan rumah Disnakertrans Kabupaten Sukabumi sebenarnya berada.

Jangan sampai sistemnya sudah digital, tetapi praktiknya masih manual.

Aplikasinya online, tetapi “orang dalam”-nya offline.

Lowongannya terpampang di website, tetapi untuk benar-benar masuk perusahaan harus mencari nomor seseorang yang katanya bisa membantu.

Kalau skenario seperti itu masih terjadi, maka digitalisasi hanya akan menjadi pajangan teknologi.

Karena tujuan utama aplikasi bukan sekadar membuat pelayanan terlihat modern.

Tujuan akhirnya adalah memudahkan pencari kerja, mempertemukan tenaga kerja dengan perusahaan, memperluas akses kesempatan kerja, dan menciptakan proses yang lebih transparan.

Silent Center Sukabumi memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari upaya tersebut.

Tetapi tentu saja, aplikasi tidak bisa bekerja sendirian.

Pemerintah harus memastikan sistemnya berjalan. Perusahaan harus aktif dan transparan. Pencari kerja harus mendapatkan edukasi. Dan masyarakat harus berani melaporkan apabila menemukan praktik pungutan liar.

Jadi, apakah ini benar-benar “bye bye pungli ketenagakerjaan”?

Jawabannya masih membutuhkan pembuktian di lapangan.

Namun setidaknya, Sukabumi sudah memiliki pintu digital untuk menuju ke sana.

Dan mungkin sekarang pertanyaannya bukan lagi:

“Berapa uang yang harus saya keluarkan supaya bisa kerja?”

Melainkan:

“Lowongan resminya ada di mana?”

Kalau jawabannya bisa ditemukan di Silent Center Sukabumi, mungkin memang sudah waktunya pungli ketenagakerjaan mulai mencari pekerjaan baru.

Tonton video selengkapnya di sini untuk menyimak perbincangan bersama Endang Sopyan dan jajaran Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kabupaten Sukabumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *