Millionbrainhub.com – Pernah dengar PRIMAS? Ini bukan nama aplikasi baru, bukan pula singkatan yang hanya muncul dalam rapat pemerintahan. PRIMAS merupakan program Bupati Sukabumi untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapatkan akses permodalan hingga Rp5 juta tanpa bunga.
Baca juga : Gelar Bulan Bahasa 2026, Disdik Sukabumi Kobarkan Literasi Generasi Muda
Kedengarannya menarik, bukan? Di tengah pelaku UMKM yang sering harus memutar otak demi menjaga modal tetap berputar, pinjaman tanpa bunga tentu menjadi angin segar. Namun, muncul pertanyaan yang cukup menggelitik: apakah program PRIMAS sudah benar-benar dinikmati masyarakat luas, atau baru diketahui segelintir pelaku UMKM yang rajin berburu informasi?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Sebab, program sebagus apa pun akan sulit memberikan dampak maksimal jika informasi tentangnya hanya berputar di lingkaran orang-orang yang sudah tahu.
Nazlia, Pelaku UMKM King Dimsum yang Sudah Merasakan Manfaat PRIMAS
Untuk mencari tahu lebih jauh, kami berbincang santai dengan Nazlia, pelaku UMKM yang menjalankan usaha kuliner dengan merek King Dimsum. Ia menjadi salah satu pelaku usaha yang berhasil mengakses program PRIMAS melalui Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kabupaten Sukabumi.
Menurut Nazlia, proses pengajuan yang ia jalani terbilang mudah. Persyaratan yang disiapkannya antara lain sertifikat halal MUI dan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang sudah berjalan minimal enam bulan.
Informasi mengenai program tersebut ia dapatkan dari grup UMKM Naik Kelas. Informasi serupa, katanya, sebenarnya juga sudah beredar melalui media sosial.
Artinya, informasi program ini bukan sama sekali tidak tersedia. Namun, persoalannya mungkin terletak pada siapa yang menerima informasi tersebut, siapa yang sempat membacanya, dan siapa yang benar-benar memahami bahwa program itu bisa diakses untuk membantu usahanya.
Di sinilah persoalan klasik dunia UMKM kembali muncul. Informasi bisa saja sudah diunggah berkali-kali, tetapi belum tentu menjangkau semua orang yang membutuhkan.
Bagi pelaku usaha yang aktif di media sosial atau tergabung dalam komunitas UMKM, informasi program pemerintah mungkin relatif mudah ditemukan. Namun, bagi pelaku usaha yang lebih senior atau tidak terbiasa menggunakan platform digital, mencari informasi persyaratan dan prosedur pengajuan bisa menjadi tantangan tersendiri.
Jangan sampai programnya sudah tersedia, anggarannya sudah disiapkan, tetapi calon penerimanya justru masih sibuk bertanya kepada tetangga apakah ada bantuan modal yang bisa diakses.
BPR Kabupaten Sukabumi: Anggaran Tahap Pertama Rp2 Miliar
Untuk mengonfirmasi informasi tersebut, tim Millionbrainhub.com mendatangi kantor BPR Kabupaten Sukabumi dan menemui Heri Firmansyah, Kepala Divisi Pemasaran BPR Kabupaten Sukabumi.
Heri membenarkan bahwa program PRIMAS memang tersedia. Pada tahap pertama, program ini dianggarkan sebesar Rp2 miliar dari alokasi APBD.
Menurut Heri, cukup banyak pelaku UMKM yang datang untuk mengakses program tersebut. Namun, tidak sedikit pula pemohon yang belum memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Salah satu kendala yang paling sering ditemukan berkaitan dengan persyaratan NIB yang harus sudah berjalan minimal enam bulan.
Lantas, mengapa harus enam bulan? Apakah pelaku usaha yang baru memiliki NIB otomatis dianggap belum layak mendapatkan bantuan?
Heri menjelaskan bahwa persyaratan tersebut merupakan salah satu instrumen penyaringan atau screening bagi calon penerima. Tujuannya agar program benar-benar menyasar pelaku usaha yang memiliki keseriusan dalam menjalankan bisnisnya, bukan mereka yang baru muncul ketika mendengar ada fasilitas pinjaman tanpa bunga.
Dengan kata lain, pemerintah dan pihak penyalur ingin melihat bahwa usaha yang diajukan memang memiliki rekam keberadaan, bukan sekadar identitas usaha yang dibuat mendadak demi mengejar momentum bantuan.
Sebab, mengurus NIB ketika ada program bantuan memang bisa menjadi pemantik semangat berwirausaha. Namun, memiliki NIB dan benar-benar menjalankan usaha tentu merupakan dua hal yang berbeda.
Programnya Ada, Informasinya Juga Ada. Lalu, Apa Persoalannya?
Dari pengalaman Nazlia dan penjelasan pihak BPR Kabupaten Sukabumi, setidaknya ada dua persoalan yang patut diperhatikan.
Pertama, akses informasi. Publikasi melalui media sosial dan grup komunitas memang membantu, tetapi belum tentu menjangkau seluruh pelaku UMKM. Sosialisasi melalui komunitas, pendamping UMKM, pemerintah desa, hingga saluran informasi yang mudah diakses secara langsung dapat menjadi cara untuk memperluas jangkauan.
Kedua, kesiapan administrasi pelaku usaha. Persyaratan seperti NIB dan sertifikat halal perlu dipahami sejak awal. Pelaku UMKM sebaiknya tidak menunggu program bantuan muncul untuk mulai merapikan legalitas usahanya.
Di sisi lain, besarnya anggaran tahap pertama sebesar Rp2 miliar juga menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana anggaran tersebut telah terserap, berapa banyak pelaku UMKM yang sudah menerima manfaat, dan bagaimana persebaran penerimanya?
Pertanyaan itu tentu tidak bisa dijawab hanya dari satu pengalaman penerima maupun banyaknya pemohon yang datang ke kantor BPR. Diperlukan data penyaluran yang lebih lengkap agar masyarakat bisa menilai seberapa luas manfaat program PRIMAS telah dirasakan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan program pemerintah bukan hanya soal anggaran yang tersedia, persyaratan yang ditetapkan, atau ramainya pemohon di kantor pelayanan. Yang lebih penting adalah apakah program tersebut benar-benar membantu usaha kecil bertahan, berkembang, dan meningkatkan pendapatan.
Pinjaman Rp5 juta tanpa bunga tentu bukan uang yang bisa menyelesaikan semua persoalan UMKM. Namun, jika dikelola dengan baik, modal tersebut bisa menjadi tambahan napas bagi usaha yang sedang tumbuh.
Jadi, apakah PRIMAS sudah dinikmati masyarakat luas atau baru oleh segelintir pelaku UMKM yang lebih cepat mendapatkan informasi?
Jawabannya perlu dibuktikan melalui data penerima, tingkat penyaluran, dan jangkauan sosialisasi. Satu hal yang jelas, program bantuan tidak cukup hanya tersedia. Masyarakat juga harus tahu, memahami persyaratannya, dan memiliki kesempatan yang wajar untuk mengaksesnya.
Tonton video lengkap perbincangan kami bersama Nazlia, pelaku UMKM King Dimsum, dan Heri Firmansyah dari BPR Kabupaten Sukabumi. Siapa tahu, setelah menonton, Anda bukan hanya tahu PRIMAS, tetapi juga bisa memahami langkah awal untuk mempersiapkan usaha agar lebih siap mengakses program permodalan.
Sebab, dalam urusan UMKM, modal memang penting. Tetapi informasi yang tepat waktu terkadang sama berharganya. Jangan sampai programnya sudah berjalan, sementara pelaku usahanya baru tahu setelah orang lain selesai mengajukan.











