MillionBrainHub.com — Jika selama ini banyak yang bertanya seperti apa wajah pembangunan ekonomi rakyat yang diharapkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di daerah, mungkin Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, mulai memberi sedikit bocoran jawabannya.
Baca juga : DBA Dan BPP Cisaat, Sukabumi Siap Produksi Beras Premium
Di tengah keluhan klasik UMKM soal modal, pemasaran, sampai kebiasaan “uang usaha ikut hilang buat bayar jajan keluarga”, pelatihan untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) justru digelar serius di Kecamatan Gegerbitung oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sukabumi.
Bukan sekadar acara formal penuh spanduk lalu pulang membawa nasi kotak, pelatihan kali ini mencoba menyentuh satu persoalan yang sering dianggap sepele namun diam-diam mematikan usaha kecil: manajemen pengelolaan keuangan.
Karena, mari jujur saja, banyak UMKM tumbang bukan karena produk jelek, tetapi karena dompet usaha dan dompet pribadi sudah seperti saudara kembar siam—tidak pernah benar-benar terpisah.
Gegerbitung Mulai Menunjukkan Harmonisasi Ekonomi Desa?
Di Kecamatan Gegerbitung, mulai terlihat pola yang cukup menarik. Ada upaya harmonisasi antara Koperasi Merah Putih, pelaku UMKM, hingga dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).
Kalau pola ini berjalan konsisten, bukan tidak mungkin menjadi model ekonomi kerakyatan versi lokal yang bisa diduplikasi ke wilayah lain. UMKM bergerak, koperasi menopang, sementara rantai kebutuhan pangan juga hidup. Setidaknya, ekosistemnya mulai terlihat—sesuatu yang sering terdengar bagus di rapat, tapi kadang tersesat saat implementasi.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sukabumi, Sri Hastuty Harahap, tampaknya cukup serius mendorong pola seperti ini berkembang lebih luas.
Bahkan, semangat untuk menduplikasi keberhasilan harmonisasi di Gegerbitung ke kecamatan lain mulai terasa. Sebab ketika koperasi, UMKM, dan program pangan berjalan beriringan, ekonomi lokal tidak hanya bergerak—tetapi mulai punya arah.
Pesan Penting Bu Kadis: “Pisahkan Uang Usaha dan Uang Pribadi!”
Di sela pelatihan, pesan yang terdengar sederhana justru menjadi tamparan paling relevan untuk banyak pelaku usaha.
“Tolong dipisahkan antara uang usaha dan uang pribadi!”
Kalimat ini mungkin terdengar biasa. Namun bagi banyak UMKM, ini ibarat nasihat yang sering didengar tapi kadang kalah oleh godaan realita: uang hasil jualan pagi dipakai beli pulsa siang, sore buat kebutuhan rumah, malam bingung kenapa modal besok mendadak menghilang.
Sedikit satir memang, tapi realitas lapangan kerap seperti itu.
Padahal, menurut para pendamping UMKM, pemisahan keuangan adalah fondasi dasar agar usaha bisa berkembang, punya pencatatan yang sehat, hingga lebih mudah mengakses pembiayaan resmi.
Dukungan Bupati: Modal Tanpa Bunga, Asal Jangan ke Rentenir
Dukungan terhadap UMKM juga datang dari Bupati Sukabumi, Asep Japar, yang disebut memberikan dorongan melalui skema pinjaman modal usaha tanpa bunga bagi pelaku UMKM.
Sebuah langkah yang tentu terdengar menenangkan bagi pelaku usaha kecil yang selama ini sering berada di persimpangan: mau berkembang tapi takut modal, mau pinjam tapi bunga bikin tidur tidak nyenyak.
Namun, pesan penting kembali diingatkan oleh Sri Hastuty Harahap:
“Jangan pinjam ke rentenir ya, kita ini perintis bukan pewaris.”
Kalimat yang terdengar ringan, tetapi punya makna dalam. Karena usaha kecil memang seharusnya dibangun dengan keberanian dan strategi—bukan diwarisi utang berbunga tinggi yang kadang lebih cepat berkembang dibanding omzetnya.
Inikah Model yang Ingin Dilihat Presiden Prabowo?
Pertanyaan besarnya: inikah model pembangunan ekonomi daerah yang diharapkan Presiden Prabowo?
Ketika pelatihan benar-benar menyentuh kebutuhan pelaku usaha, koperasi mulai hidup, akses modal diperkuat, dan rantai ekonomi lokal saling menopang, setidaknya ada secercah gambaran tentang bagaimana ekonomi rakyat bisa bertumbuh dari bawah.
Tentu jalan masih panjang. Pelatihan saja tidak cukup jika tidak dibarengi konsistensi pendampingan. Sebab, seperti kata pepatah UMKM modern: seminar bisa sehari, kebiasaan mencampur uang usaha dengan uang dapur bisa bertahun-tahun.
Lalu, seperti apa keseruan pelatihan UMKM di Kecamatan Gegerbitung ini?
Klik untuk tonton videonya dan lihat bagaimana para pelaku UMKM mulai bersiap naik kelas.
