MillionBrainHub.com— Kadang perubahan besar di dunia pertanian tidak dimulai dari rapat panjang ber-AC atau presentasi berlembar-lembar. Kadang cukup dari sebuah obrolan santai—di mana pejabat lebih banyak mendengar, dan petani yang berbicara. 🌾
Baca juga : Mengintip Kemegahan Gerai Koperasi Merah Putih Desa Babakan
Itulah yang terjadi ketika Aep Majmudin berbincang dengan Iqbal, seorang petani muda dari Sukabumi. Bukan diskusi formal penuh istilah teknokratis, melainkan percakapan jujur tentang bagaimana anak muda bisa kembali ke sawah dan kebun—tanpa merasa “ketinggalan zaman”.
Menariknya, dalam percakapan itu, sang kepala dinas justru lebih sering menjadi pendengar.
Bertani Bukan Sekadar Program Dinas
Iqbal menyampaikan pandangan yang cukup menohok—meski disampaikan dengan santai.
Menurutnya, berbicara tentang petani tidak selalu harus dimulai dari dinas atau program pemerintah.
“Berbicara petani bukan soal dinas pertanian, bukan soal penyuluh. Tapi bagaimana saya sebagai pemuda bisa mengajak pemuda lain kembali ke pertanian,” kata Iqbal.
Ia mengakui, memulai bertani di usia muda bukan perkara mudah. Ketika teman-teman seusia sibuk dengan pekerjaan kantoran yang rapi dan terlihat “lebih modern”, memilih turun ke lahan kadang menghadirkan rasa canggung.
Ada sedikit rasa malu. Ada juga banyak keraguan.
Namun bagi Iqbal, tekad akhirnya mengalahkan gengsi.
Hari ini ia membuktikan bahwa bertani bukan sekadar romantisme desa. Bertani bisa menghasilkan cuan, bahkan menjadi pondasi utama penghasilannya. 💰🌱
Pertanyaan yang Sedikit Satir
Dalam suasana santai itu, Aep sempat melontarkan pertanyaan yang cukup menarik—dan sedikit satir.
“Bagaimana para penyuluh di lapangan? Ada kerjanya tidak?” tanyanya.
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup mewakili kegelisahan banyak orang tentang efektivitas program pertanian.
Jawaban Iqbal justru membalik persepsi tersebut.
Menurutnya, perjalanan dirinya sampai berada di titik sekarang tidak lepas dari peran penyuluh pertanian.
“Kalau saya bisa sampai titik ini, tidak lepas dari penyuluh, Pak,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dari para penyuluh itulah ia mengetahui berbagai program, pelatihan, hingga bantuan yang tersedia bagi petani.
Bahkan kesempatan dirinya dilatih menjadi petani muda oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia pun bermula dari informasi yang diberikan penyuluh di lapangan.
Dengan kata lain, birokrasi memang sering dianggap lambat. Tetapi ketika informasi sampai ke orang yang tepat, dampaknya bisa sangat nyata.
Misi Besar: Mengajak Pemuda Kembali ke Kebun
Bagi Iqbal, misi sebenarnya bukan sekadar meningkatkan hasil panen. Yang lebih penting adalah mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian.
Selama ini, sektor pertanian sering dipersepsikan sebagai pekerjaan terakhir ketika pilihan lain tidak ada.
Padahal, menurutnya, justru di sektor inilah peluang besar masih terbuka.
Dengan teknologi, akses pasar digital, dan manajemen yang baik, pertanian bisa menjadi sektor yang menjanjikan—bukan hanya bertahan hidup, tetapi juga berkembang.
Dan mungkin di situlah inti percakapan tersebut.
Seorang pejabat mendengar langsung dari petani muda.
Seorang petani muda berbicara tentang masa depan pertanian.
Kadang, perubahan memang dimulai dari percakapan sederhana seperti itu. 🙂
Tonton video podcast lengkapnya di sini: CARA KAYA DARI BERTANI ! Pemuda ini Buktikan Bertani Itu Cuan Ratusan Juta Rupiah Dari Bertani ?











