MillionBrainHub.com – Kalau mendengar kata koperasi, apa yang langsung terlintas di benak sebagian besar masyarakat? Simpan pinjam, bunga, dan tagihan? Tenang, itu wajar. Tapi di Desa Sasagaran, Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi, anggapan itu pelan-pelan dipatahkan oleh sosok Ridwan Ali Yusup, Ketua KDMP (Koperasi Desa Merah Putih).
Baca juga : Santunan Anak Yatim Warnai Peringatan Satu Abad NU di Sukabumi
Dengan gaya khas orang lapangan—lebih banyak kerja daripada seminar—Ridwan bercerita bahwa koperasi yang ia pimpin bukan sekadar “bertahan hidup”, tapi benar-benar berjuang hidup dari nol hingga sekarang. Dan ya, masih hidup. Bahkan tumbuh.
Koperasi Merah Putih, Bukan Sekadar Buku Tabungan
Ridwan menyayangkan stigma yang terlanjur melekat di masyarakat. Begitu kata koperasi disebut, yang muncul di benak hanyalah urusan simpan pinjam. Padahal menurutnya, Koperasi Merah Putih itu luas, sangat luas.
“Alhamdulillah, koperasi kami sudah punya lima lini usaha,” ujar Ridwan.
Lima lini usaha itu bukan kaleng-kaleng:
- Gas LPG
- Beras SPHP
- Peternakan ayam petelur
- Budidaya lele
- Pupuk bersubsidi
Bahkan untuk urusan pupuk, KDMP Sasagaran disebut-sebut sebagai satu-satunya koperasi saat ini yang menjual pupuk bersubsidi se-Jawa Barat. Sebuah prestasi yang tentu tidak datang begitu saja.
LPG Rp19.000, Kok Bisa?
Di tengah harga kebutuhan pokok yang makin bikin dahi berkerut, KDMP justru datang membawa kabar yang agak “tidak masuk akal”. Gas LPG dijual Rp19.000 per tabung, di bawah HET.
Padahal sebelumnya, harga gas di warung bisa menyentuh Rp23.000 hingga Rp25.000.
“Kok bisa?”
Jawabannya sederhana tapi jarang dilakukan: koperasi yang benar-benar berpihak ke anggota.
Sejak awal berdiri, KDMP konsisten menjual LPG di harga sekitar Rp19.000, asal menjadi anggota koperasi. Efeknya? Bayangkan berapa banyak uang yang bisa dihemat masyarakat, terutama anggota koperasi, dan dialihkan ke kebutuhan lain yang lebih penting.
Di saat pasar sering kali “tidak ramah”, KDMP justru berusaha mengembalikan harga pada fitrahnya.
Pupuk Bersubsidi dan Petani yang Akhirnya Bisa Tersenyum
Tak berhenti di LPG, KDMP juga memberi dampak besar bagi para petani. Pupuk bersubsidi menjadi salah satu lini usaha yang paling dirasakan manfaatnya.
Ridwan mengakui, proses pengajuan ke Pupuk Indonesia tidaklah mudah. Tapi berkat kolaborasi dengan dinas terkait dan para stakeholder, akhirnya pada tahun 2026, KDMP bisa menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai RDKK tahun 2025.
Kabar baiknya, Ridwan menuturkan bahwa petani yang ingin bergabung ke Koperasi Merah Putih akan mendapatkan banyak kemudahan. Bukan janji di atas kertas, tapi sudah dirasakan langsung oleh anggota.
Gerai Koperasi: Jangan Sampai Jadi Monumen Kenangan
Di ujung cerita, Ridwan menyampaikan satu keresahan yang cukup serius—dan ini bukan satire.
Ia khawatir gerai Koperasi Merah Putih justru bernasib seperti monumen: ada, dibangun, tapi tidak jelas arahnya. Hingga kini, menurutnya, belum ada arahan yang benar-benar jelas dari pemerintah pusat terkait bagaimana koperasi harus mengelola gerai tersebut.
Ridwan berharap pemerintah pusat segera turun tangan memberi panduan yang konkret. Karena ia meyakini, jika dikelola dengan benar, Koperasi Merah Putih bisa menjadi pusat perekonomian daerah, bukan sekadar papan nama dan bangunan kosong.
“Jangan sampai koperasi hanya dikenang, padahal seharusnya menghidupi,” kira-kira begitu pesan tersiratnya.
Tonton video podcast lengkapnya di sini: KOPERASI MERAH PUTIH Ini Selamatkan Ratusan Juta Uang Rakyat! Indomart & Alfamart Gigit Bisa Jari?












