MillionBrainHub.com – Siapa bilang ngopi itu cuma soal menikmati rasa pahit yang elegan di cangkir keramik? Di PIRO Coffee, satu sore santai berubah menjadi ruang diskusi yang lebih hangat dari air seduhan. Hadir dalam bincang santai ini adalah Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi, Pak Dani Tarsoni; penyuluh pertanian, Pak Danny Haryanto; dan tentu saja, si pemilik rumah: Ibu Sri, owner dari PIRO Coffee.
Baca Juga : Setelah Setahun Rusak, Bendungan Leuwi Bangga Akhirnya Dilirik
Temanya? Industri kopi Sukabumi. Berat? Tidak juga. Apalagi kalau dibungkus obrolan ringan, ditemani aroma kopi arabika segar dan suasana kafe yang mengusung konsep semi-rakyat tapi full rasa.
Ngopi Sukabumi: Tumbuh Subur, Tapi Kurang Diseruput
Sukabumi ini sebenarnya kebun emas bagi para pecinta kopi. Coba bayangkan: dengan jumlah penduduk yang besar dan antusiasme warga terhadap kopi, estimasi kebutuhan harian bisa tembus 3 ton per hari. Tapi lucunya (atau tragisnya?), banyak kopi hasil tani Sukabumi justru tidak terserap di industrinya sendiri.
Parahnya lagi, banyak kopi asli Sukabumi malah diaku sebagai kopi dari daerah lain: Bandung, Bogor, bahkan luar Jawa. Klasik. Petaninya dari Cikidang, branding-nya malah dari Cibaduyut.
“Kopi kita ini berkualitas, tapi banyak yang belum tahu karena belum terintegrasi secara sistematis,” ujar Pak Dani Tarsoni sambil menyeruput espresso-nya.
Dinas Perdagangan: Tidak Bisa Sendirian, Bro
Pak Dani juga menegaskan, ini bukan hanya urusan Dinas Perdagangan semata. “Kalau mau dorong industri kopi lokal, ya harus bareng-bareng. Harus ada sinergi sama Dinas Pertanian, PUTR, bahkan pariwisata. Jangan jalan sendiri-sendiri, nanti kayak seduh kopi tanpa air: kosong.”
Pak Danny Haryanto menambahkan bahwa salah satu tantangan utama adalah tata kelola pasca panen dan rantai distribusi. “Petani udah capek-capek nanam, tapi ngga tahu harus jual ke siapa. Akhirnya, dijual murah ke tengkulak luar daerah. Ya keburu diseduh sama orang lain,” keluhnya.
Momentum Menanam: Kenapa Nggak Kopi?
Di kesempatan lain, saat agenda “Nganjang Warga” di Pelabuhan Ratu, Gubernur Jabar (KDM) menegaskan kembali komitmennya membangun Kabupaten Sukabumi. Tapi, katanya, harus dibenahi dulu tata ruangnya. Nah, di sinilah peluang itu muncul.
“Kenapa nggak tambah aja lahan kopi? di Sukabumi banyak lahan tidur” Pak Dani Tarsoni berapi-api menjelaskan
Ibu Sri, sebagai tuan rumah sekaligus penggiat kopi lokal, berharap PIRO bisa jadi jembatan antara petani dan pasar.
“Kita tuh punya rasa, tinggal branding dan sistem aja yang harus dikuatin. Jangan kalah sama kopi luar yang menang di kemasan doang,” ujar Bu Sri, yang katanya lebih hafal harga green bean daripada harga cabe.