MillionBrainHub.com– Di Desa Padabeunghar, Kabupaten Sukabumi, sawah bukan lagi tempat menanam padi. Sudah lebih dari lima tahun, aliran irigasi Jentreng yang dulunya mengalir deras dari Sungai Cimandiri kini hanya menyisakan cerita masa lalu dan retakan tanah kering.
Baca juga : 80 Tahun Merdeka: Upacara, Pidato, dan Janji Pembangunan
Sistem irigasi alami yang dulu menjadi tulang punggung pertanian warga, kini telah kering kerontang. Dan meski pemerintah katanya sudah “mengetahui”, air belum juga datang — hanya kunjungan dinas dan janji yang lalu-lalang seperti angin kemarau.
“Usulan sudah kami sampaikan. Dinas juga sudah sempat datang lihat. Tapi, ya, sampai sekarang belum ada kelanjutannya,” ujar Ence Rohendi, Kepala Desa Padabeunghar, saat ditemui tim Millionbrain. Suaranya tenang, tapi nada kecewanya sulit disembunyikan.
Swadaya Bukan Solusi, Tapi Sementara Satu-satunya
Di tengah harapan yang kian menipis, warga desa tidak tinggal diam. Lewat desakan masyarakat, muncullah inisiatif swadaya yang dipimpin oleh Asep Kamho, Ketua Tim Pembangunan Desa.
“Kami coba buat pompa hidram. Jujur, dana swadaya tidak cukup. Tapi karena ini desakan warga, kami jalan terus… walaupun belum tentu berhasil,” katanya.
Kini, galian penampung air di pinggir sungai sudah terlihat. Belum sempurna, tapi cukup jadi bukti bahwa masyarakat tak sekadar menunggu keajaiban birokrasi. Mereka bergerak — meskipun pelan, meskipun dana terbatas, dan meskipun pemerintah belum tentu ingat.
Dari Sawah ke Sosial Media
Warga seperti Kang Rendy juga tak tinggal diam. Ia mencoba membawa persoalan ini langsung ke level yang lebih tinggi — yakni ke Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.
Sayangnya, sang gubernur tidak berada di tempat saat itu. Tapi Kang Rendy berhasil menemui Haji Mumu, kerabat Gubernur.
“Saya sudah jelaskan semua. Mudah-mudahan nanti dijadwalkan pertemuan lagi, entah gubernur yang ke sini, atau kami yang harus ke sana,” ujarnya, dengan harapan yang lebih keras dari tanah sawah mereka.
Tonton video keseruan pertemuan Kang Rendy dengan pihak Pemprov di sini: Warga Menjerit: Pak KDM & Pak Asjap, Desa Kami Kekeringan Berkepanjangan
Lima Tahun Tanpa Air, Tapi Tidak Tanpa Harapan
Desa Padabeunghar adalah potret kecil dari wajah besar Indonesia: petani menunggu air, pemerintah menunggu laporan lengkap, dan inisiatif warga terus menyambung hidup di antara celah sistem yang belum sepenuhnya hadir.
Mungkin pompa hidram itu belum selesai. Mungkin belum tentu berhasil. Tapi setidaknya, desa ini sudah membuktikan: ketika birokrasi berjalan lambat, gotong royong masih bisa jadi aliran air terakhir yang menghidupkan harapan.