MillionBrainHub.com — Kalau dulu bangsa asing datang ke Nusantara karena tergoda aroma lada dan kopi, sekarang justru petani yang menanamnya seringkali “tidak tercium” siapa pun. Ironis, ya? Di balik setiap biji kopi yang kita teguk di kafe estetik kota besar, ada cerita getir dari kebun kecil di Kabupaten Lahat. Dan kali ini, kami berbincang langsung dengan Darwin, seorang petani yang tetap tersenyum meski jarang disapa penyuluh pertanian.
Baca juga : Jenal Mutaqin: Kisah Pemuda Bogor yang Tak Kenal Kata “Nganggur”
Kopi dan Lada: Dulu Rebutan Dunia, Sekarang Rebutan Bertahan Hidup
Darwin menatap ladang hijaunya yang luas tapi sepi perhatian.
“Katanya Indonesia penghasil kopi dan lada terbaik di dunia, tapi kami di sini nggak pernah tahu bentuk penyuluh pertanian itu kayak apa,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Ya, tawa yang lebih mirip doa agar suatu saat ada yang benar-benar datang, bukan cuma janji manis saat kampanye.
Padahal dari Lahat inilah, biji kopi dan lada melenggang ke pasar — kadang ke luar negeri — membawa harum nama Indonesia, tapi tidak selalu membawa pulang kesejahteraan bagi petaninya.
Negara Hadir, Tapi Mungkin Tersesat di Jalan ke Kebun
Kalimat “negara hadir” sering kita dengar di spanduk atau baliho, tapi Darwin belum pernah melihat sosok yang dimaksud.
“Katanya negara hadir sampai pelosok, tapi mungkin sinyalnya hilang sebelum sampai ke kebun kami,” kelakarnya.
Ia tetap menanam, tetap memetik, dan tetap berharap. Bukan berharap subsidi, tapi sekadar sapaan, bimbingan, atau kunjungan dari penyuluh yang katanya “selalu dekat dengan petani”.
Dari Cangkir ke Realita: Rantai yang Terlalu Panjang
Ironinya, harga kopi melonjak di kafe, tapi harga di kebun justru menurun. Rantai distribusi yang panjang membuat petani seperti Darwin hanya jadi penonton di pesta yang mereka sendiri siapkan bahan-bahannya.
Namun alih-alih mengeluh, ia memilih tetap bekerja.
“Kalau nunggu bantuan, nanti kebun keburu jadi hutan lagi,” ujarnya sambil tersenyum, seolah kegetiran itu cuma bumbu kehidupan.
Refleksi: Dulu Dijajah Karena Lada, Sekarang Dijajah Oleh Sistem
Kita sering bangga dengan sejarah bahwa rempah membuat dunia mengenal Indonesia. Tapi kini, rempah dan kopi justru jadi pengingat bahwa tak semua harum berujung manis.
Darwin dan ribuan petani lain membuktikan: semangat itu masih ada, meski perhatian kadang cuma lewat di headline berita.
Tonton Videonya Disini : Gara-Gara Kopi Dan Lada Indonesia Dijajah, Bagaimana Dengan Sekarang?














