MillionBrainHub.com — Di balik deru motor dan dering notifikasi orderan, terselip kisah nyata para pejuang jaket hijau. Bincang santai dengan dua tokoh Baraya Online Sukabumi (BOS) — Kang Rajif (Ketua) dan Kang Asep (Wakil Ketua) — membuka mata kita, bahwa dunia ojol (ojek online) tak sesederhana “tarik order, dapat cuan”.
Baca juga : Daftar Rotasi ASN ala Pemkab Sukabumi 2025
Paguyuban BOS bukan sekadar kumpulan driver ngopi bareng di pangkalan. Organisasi ini resmi terdaftar di Kemenkumham, hasil perjalanan panjang dari obrolan warung kopi hingga jadi wadah aspirasi ribuan pengemudi di Sukabumi.
“Awalnya cuma kumpul di pangkalan, saling bantu. Tapi lama-lama, masalah makin banyak, akhirnya kita bentuk BOS biar ada kekuatan hukum juga,” ujar Kang Rajif sambil tersenyum tipis — mungkin antara bangga dan lelah menghadapi sistem yang katanya ‘cerdas’, tapi malah bikin rakyat pusing tujuh keliling.
Ketika “Hemat” Jadi Berbayar, Ojol Menjerit Pelan
Salah satu isu panas yang sedang disorot BOS adalah kebijakan baru dari aplikator: fitur hemat berbayar. Ironis? Jelas. Karena “hemat” yang semestinya bikin ongkos irit, kini justru jadi beban bagi driver.
“Sekarang kalau ojol gak beli kuota hemat itu, orderannya sepi. Padahal hemat itu ya harusnya gratis, bukan malah bayar buat dapat orderan,” tutur Kang Asep, nada suaranya terdengar getir — seperti motor yang dipaksa nanjak dengan bensin pas-pasan.
BOS Naik ke Balai Kota: Aspirasi Rakyat Berjaket Hijau
Tidak tinggal diam, BOS sudah mengadu ke Balai Kota Sukabumi. Mereka bertemu langsung dengan Wali Kota Sukabumi, membawa suara ribuan ojol yang merasa dirugikan oleh sistem yang lebih berpihak pada algoritma ketimbang manusia.
Dan rupanya, sang Wali Kota tak sekadar mendengar — beliau mendukung gagasan BOS untuk melahirkan aplikasi daerah berbasis ekonomi kerakyatan.
“Kalau aplikator gak mau dengar, ya kita bikin sendiri. Aplikasi lokal, prinsipnya ekonomi rakyat, gak ada potongan aneh-aneh. Selain bantu ojol, bisa juga nambah PAD (Pendapatan Asli Daerah),” jelas Kang Asep dengan semangat yang menular.
Ketika Ojol Bersatu, Jalanan Bisa Berubah
BOS kini bukan sekadar komunitas, tapi gerakan. Gerakan kecil di kota yang penuh tanjakan ini, membawa semangat besar: kemandirian digital dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Siapa tahu, dari Sukabumi lahir aplikasi karya anak daerah yang lebih adil dan berjiwa sosial — bukan hanya mengejar profit, tapi juga kebermanfaatan.
Tonton kisah lengkapnya di video berikut: Capek Dijajah Aplikator? Ojol Di Kota Ini Siap Rancang Aplikasi Daerah!














