MillionBrainHub.com – Hari Tani Nasional di Kabupaten Sukabumi tahun ini tidak hanya diisi dengan seremoni, foto bersama, atau ucapan selamat yang biasanya ramai menghiasi media sosial.
Di Goalpara, Hari Tani Nasional justru dimanfaatkan Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Sukabumi untuk membuka ruang diskusi bersama para petani dan sejumlah pihak yang berkaitan dengan dunia pertanian.
Baca juga : Ngalongok Dulur di Lembur, Asep Japar Belanja Masalah
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Sukabumi Nurkosim, penyuluh pertanian Irma dan Wulan, aktivis pertanian Lulu, pihak swasta Agus dari sektor pupuk Cano F80, serta para petani.
Dan seperti biasa, ketika petani sudah diberi kesempatan bicara, persoalannya ternyata bukan cuma soal pupuk dan cangkul.
Mulai dari teknologi pertanian, persoalan lahan, lingkungan, harga hasil bumi, Koperasi Merah Putih, hingga penyerapan hasil pertanian untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut menjadi bahan perbincangan.
Hari Tani Nasional Jadi Ruang Evaluasi Petani Sukabumi
Ketua Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Sukabumi, Nurkosim, menegaskan tekadnya untuk ikut mendorong peningkatan kesejahteraan petani.
Karena itu, momentum Hari Tani Nasional dianggap tepat untuk berdiskusi langsung dengan petani mengenai persoalan yang mereka hadapi di lapangan.
Bagi Nurkosim, kesejahteraan petani tidak cukup hanya dibicarakan dalam pidato. Harus ada upaya untuk memahami persoalan yang benar-benar terjadi dari hulu sampai hilir.
Sebab petani bukan hanya membutuhkan kemampuan menghasilkan panen.
Mereka juga membutuhkan kepastian pasar, harga yang masuk akal, teknologi, perlindungan lahan, hingga akses terhadap program pemerintah.
Penyuluh Pertanian Dorong Petani Tinggalkan Paradigma Lama
Penyuluh pertanian Irma memberikan arahan agar petani mulai terbuka terhadap pemanfaatan teknologi tepat guna.
Menurutnya, perkembangan pertanian tidak bisa terus berjalan dengan paradigma lama.
Kalimat seperti “dulu nenek moyang kami bertani seperti ini” memang punya nilai sejarah, tetapi bukan berarti seluruh metode lama harus dipertahankan tanpa evaluasi.
Teknologi tepat guna, menurut Irma, dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas pertanian.
Pesannya sederhana: tradisi boleh dipertahankan, tetapi inovasi jangan ditinggalkan.
Karena kalau semua harus sama seperti zaman nenek moyang, mungkin sampai sekarang petani masih menunggu hujan sambil menghitung berapa ekor kerbau yang bisa dipakai membajak sawah.
Aktivis Pertanian Soroti Persoalan Lahan
Sementara itu, aktivis pertanian Lulu ikut memberikan pandangan mengenai persoalan agraria yang masih menjadi perhatian petani.
Ia menyampaikan bahwa adanya regulasi agraria diharapkan dapat memberikan ruang penyelesaian bagi masyarakat yang menghadapi persoalan terkait lahan.
Termasuk bagi petani yang menggarap lahan yang statusnya bermasalah atau berkaitan dengan lahan eks HGU, tentu penyelesaiannya membutuhkan kejelasan status dan mekanisme hukum yang tepat.
Persoalan lahan memang bukan perkara sederhana.
Salah sedikit membaca status tanah, petani bisa menanam bertahun-tahun tetapi persoalannya justru tumbuh lebih subur daripada tanamannya.
Karena itu, kepastian hukum menjadi bagian penting dalam membangun pertanian yang berkelanjutan.
Petani Keluhkan Aktivitas Pertambangan dan Dampak Lingkungan
Diskusi kemudian semakin panas ketika sejumlah petani menyampaikan persoalan yang mereka temui di lapangan.
Salah satu isu yang muncul adalah dugaan adanya aktivitas pertambangan yang disebut peserta diskusi belum memiliki izin lengkap namun sudah beroperasi di Desa Cantayan.
Para peserta menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak aktivitas tersebut terhadap lingkungan, termasuk potensi pencemaran yang disebut dapat mengganggu lahan pertanian.
Keluhan tersebut menjadi catatan penting karena pertanian membutuhkan lingkungan yang sehat.
Bagaimana petani diminta meningkatkan produktivitas jika tanah dan lingkungan di sekitarnya justru dikhawatirkan mengalami kerusakan?
Namun, persoalan mengenai legalitas pertambangan dan dugaan pencemaran tentu perlu diverifikasi serta ditindaklanjuti oleh instansi berwenang agar tidak berhenti sebagai cerita dalam forum diskusi.
Ketua Gapoktan Goalpara Soroti Harga Hortikultura
Persoalan lain yang tidak kalah menarik disampaikan Lutfi, Ketua Gapoktan Goalpara.
Ia berbicara mengenai bagaimana hasil bumi dapat diintegrasikan dengan keberadaan Koperasi Merah Putih.
Salah satu masalah klasik petani hortikultura kembali muncul: harga.
Harga hasil pertanian yang naik turun terlalu cepat membuat petani kesulitan menentukan perhitungan usaha.
Hari ini harga tinggi, besok bisa turun.
Ibarat roller coaster, petani ikut naik turun, hanya saja bedanya tidak ada tiket dan tidak ada petugas yang menjamin setelah turun akan naik lagi.
Lutfi kemudian menyinggung rencana keberadaan cold storage pada koperasi desa/kelurahan yang diharapkan dapat membantu menyimpan hasil pertanian.
Ia berharap pengurus Koperasi Desa Merah Putih dapat segera mengambil langkah konkret agar hasil bumi tidak harus langsung dijual ketika harga sedang rendah.
Dengan penyimpanan yang memadai, petani diharapkan memiliki pilihan waktu penjualan sehingga gejolak harga dapat lebih terkendali.
Dapur MBG Belum Optimal Serap Hasil Pertanian Lokal?
Persoalan berikutnya datang dari petani Hendi dan Saepul.
Keduanya menyoroti penyerapan hasil pertanian lokal untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai masih belum optimal.
Dalam diskusi tersebut, muncul keluhan mengenai mekanisme pembelian hasil bumi oleh dapur MBG.
Para petani menyampaikan dugaan adanya dominasi atau monopoli dalam rantai pasok yang melibatkan yayasan dan koperasi tertentu.
Namun, tudingan tersebut merupakan pernyataan yang disampaikan dalam forum dan memerlukan klarifikasi dari pihak-pihak yang disebut.
Yang menjadi keresahan petani adalah persoalan harga.
Mereka merasa berada pada posisi yang lemah ketika harga hasil bumi ditentukan dalam rantai distribusi, sementara petani berharap hasil panen mereka dapat dibeli dengan harga yang sesuai kondisi pasar lokal.
Harapan petani sebenarnya sederhana.
Jika program MBG menggunakan bahan pangan lokal, maka petani lokal semestinya juga mendapat manfaat ekonomi dari program tersebut.
Bukan hanya menjadi penonton ketika hasil bumi mereka dibutuhkan dalam jumlah besar.
Hari Tani Nasional, Jangan Berhenti di Diskusi
Diskusi di Goalpara memperlihatkan bahwa persoalan pertanian Kabupaten Sukabumi cukup kompleks.
Petani tidak hanya bicara pupuk.
Mereka bicara teknologi, lahan, lingkungan, harga, koperasi, cold storage, hingga akses pasar melalui program pemerintah.
Karena itu, Hari Tani Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan.
Forum seperti yang dilakukan Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Sukabumi dapat menjadi ruang untuk mengumpulkan persoalan dari bawah, kemudian diteruskan menjadi bahan kebijakan dan solusi nyata.
Petani tidak meminta pertanian berjalan sempurna dalam sehari.
Mereka hanya ingin ketika panen tiba, hasil kerja kerasnya tidak ikut dipanen oleh persoalan lain.
Diskusi boleh selesai. Tetapi pekerjaan rumah pertanian Kabupaten Sukabumi justru baru dimulai.
Klik di sini untuk menonton video lengkap diskusi Hari Tani Nasional di Goalpara.












Respon (1)