Di Gegerbitung SPPG, KDKMP dan UMKM Mulai Mesra?

Pengurus Koperasi Merah Putih dan Pelaku UMKM Kec Gegerbitung Mendatangi Kepala DKUKM Kab Sukabumi, Sri Hastuty Harahap

MillionBrainHub.com — Ada yang menarik dari geliat ekonomi lokal di Kecamatan Gegerbitung. Kebutuhan dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) kini tak lagi bergantung pada pasokan luar daerah. Semuanya—ya, hampir semuanya—dipenuhi oleh Koperasi Merah Putih dan disuplai oleh UMKM setempat. Kedengarannya ideal. Tapi pertanyaannya: kok bisa?

Baca juga : DPRD Sukabumi Tekankan Pengawasan Ketat, Rekomendasi LKPJ 2025 Jadi Instrumen Politik Kinerja Eksekutif

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sukabumi, Tuti Harahap, tampaknya juga tak ingin sekadar mengangguk puas. Ia justru melontarkan pertanyaan yang cukup “menggelitik”: bagaimana ceritanya UMKM bisa masuk dan menyuplai dapur SPPG?

Jawabannya datang dari Rohmat Romansyah, Ketua Paguyuban UMKM Kecamatan Gegerbitung. Menurutnya, semua ini berawal dari sebuah “niat yang agak maksa tapi masuk akal”—yakni keinginan agar seluruh dapur di Gegerbitung memprioritaskan belanja dari UMKM lokal. Kalau tidak ada, barulah boleh melirik keluar daerah.

“Saya mulai komunikasi dengan camat, pengurus Koperasi Merah Putih, dan pihak dapur. Alhamdulillah, langsung diterima,” ujarnya.

Kalimat “langsung diterima” ini mungkin terdengar sederhana. Tapi di balik itu, ada cerita tentang koordinasi, kepercayaan, dan mungkin sedikit keberanian untuk mengubah pola lama.

Dari 50 Jadi 4000: Ketika Pesanan Datang Tanpa Drama

Dampaknya? Lumayan bikin pelaku UMKM senyum lebar.

UMKM Tahu Michelle yang diwakili Suherlan mengaku, sejak adanya MoU dengan koperasi yang menyuplai dapur, permintaan tahu melonjak dua kali lipat. Sementara itu, Dita’s Cake—yang diwakili Maelwati—mengalami lonjakan yang lebih “fantastis”.

“Dulu pesanan cuma 50 pcs per hari. Sekarang bisa 3000 sampai 4000 pcs,” katanya.

Bukan cuma angka yang naik, tapi juga kesempatan kerja. Dari yang awalnya tanpa pegawai, kini Dita’s Cake sudah mempekerjakan 7 orang. Sebuah efek domino kecil yang—kalau konsisten—bisa jadi cerita besar.

Close Loop: Teori yang Kini Mulai Terlihat Nyata

Pemerintah memang sejak lama mendengungkan konsep closed loop economy—atau dalam bahasa yang lebih membumi: uang berputar di situ-situ saja, tapi justru itu yang bikin daerah hidup.

Di Gegerbitung, konsep ini mulai terlihat bentuknya. Koperasi jadi penghubung, UMKM jadi pemasok, dapur SPPG jadi konsumen tetap. Semua saling terkait dalam satu ekosistem yang, setidaknya untuk sekarang, berjalan mulus.

Tapi tentu saja, cerita belum selesai.

Pertanyaan Lanjutan: Petani dan Peternak Sudah Ikut Main?

Tuti Harahap kembali melempar pertanyaan lanjutan—kali ini ke pengurus Koperasi Merah Putih Gegerbitung, Aripin dan bendahara Lisnawati.

“Dapur SPPG ini kan mengolah bahan mentah. Bagaimana dengan petani dan peternak? Apakah mereka sudah masuk sebagai anggota koperasi dan ikut menyuplai beras, daging, serta sayur?”

Pertanyaan ini penting. Karena kalau rantai pasok masih “bolong” di hulu, maka konsep close loop tadi belum benar-benar tertutup.

Apakah petani lokal sudah merasakan manfaat yang sama seperti UMKM olahan? Atau justru masih jadi penonton di kampung sendiri?

Tonton video lengkapnya di sini untuk melihat langsung bagaimana dinamika di lapangan dan jawaban dari para pelaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *