SUKABUMI, Millionbrainhub.com – Pemerintah Kabupaten Sukabumi tancap gas memodernisasi sektor pertanian. Dinas Pertanian (Distan) Sukabumi menerapkan sistem Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) pada lahan seluas 5.000 hektare. Langkah ini bertujuan untuk mendongkrak produktivitas padi sekaligus memperkuat swasembada pangan berkelanjutan.
Gebrakan besar ini mengubah pola pertanian konvensional menuju sistem budidaya berbasis teknologi. Petani lokal kini memanfaatkan mekanisasi, digitalisasi, serta metode budidaya modern yang jauh lebih efisien.
Baca juga : Rekor Serapan Gabah Sukabumi! Bulog Lampaui Target hingga 171,86 Persen
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, menegaskan bahwa peningkatan produksi pangan tidak cukup hanya mengandalkan perluasan lahan semata. Ia menyampaikan hal tersebut saat Sosialisasi PM-AAS di Balai Desa Citepus, Palabuhanratu.
“Prinsipnya menggunakan pertanian modern, mulai dari penyiapan lahan, penggunaan alat mesin pertanian, digitalisasi, pemilihan benih, hingga pengaturan pupuk dan pengendalian gulma,” ungkap Aep.
Saat ini produktivitas padi Sukabumi bertahan di angka 5,7 ton per hektare. Melalui PM-AAS, seluruh tahapan budidaya berjalan secara terintegrasi dari pengolahan lahan hingga panen. Petani mengoperasikan drone untuk penyemprotan, alat tanam modern, combine harvester, dan sistem digital. Distan juga menguji metode tanam benih langsung (tabela) untuk memangkas waktu persemaian.
Distan sudah membuktikan keberhasilan sistem ini di lapangan. Tiga pekan lalu, uji coba perdana di Kecamatan Waluran sukses menggarap lahan seluas 18 hektare.
Selanjutnya, Distan menyiapkan lahan percontohan (demplot) di 47 kecamatan. Setiap Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) mengelola demplot ini sebagai pusat edukasi teknologi bagi warga. Sebanyak 140 penyuluh pertanian menyerap materi modernisasi ini sebelum mendampingi para petani secara langsung.
Selain teknologi, Pemkab Sukabumi memperketat perlindungan lahan sawah agar tidak beralih fungsi. Pemerintah menargetkan 87 persen dari total 62 ribu hektare sawah masuk ke dalam skema Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
“Kalau lahannya tidak ada, kita mau menetapkan sentra produksi bagaimana? Produktivitas ditingkatkan, tetapi lahannya juga harus dijaga,” tegas Aep.
Kombinasi teknologi, digitalisasi, dan perlindungan lahan ini mendorong sektor pertanian Sukabumi menjadi lebih produktif, efisien, serta mandiri.
Adv
Tonton juga : BAGAIMANA MEWAKILI RAKYAT ?Hasil Musyawarah Partai Pun Sampai Dikhianati? Marwan Hamami Buka Suara











