MillionBrainHub.com – Suasana Geopark Corner SMPN 1 Cisolok siang itu tidak seperti ruang formal penuh pidato. Tidak ada mimbar tinggi, tidak ada nada menggurui. Yang ada justru obrolan santai tapi menohok antara Kepala Sekolah Pa Dadi Sugandi dan Pa Yanto Suryahadianto, HRD SMPN 1 Cisolok, tentang satu topik yang sering kita anggap sepele: pendidikan.
Baca juga : Wabup Andreas Ajak Tingkatkan Disiplin Diri di Silaturahmi NU Nagrak Sukabumi
“Bagi kami, murid itu bukan objek yang hanya diberi pelajaran,” ujar Pa Dadi membuka diskusi. “Mereka manusia. Dan manusia itu harus dimanusiakan.”
Kalimat sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, cukup membuat sistem pendidikan kita berkaca sejenak.
Murid Tahu China, Tapi Tidak Tahu Ketua RT
Obrolan mulai menggelitik ketika Pa Yanto menjelaskan program SSK (Sekolah Siaga Kependudukan). Di sinilah satire pendidikan muncul dengan sendirinya—tanpa perlu dilebih-lebihkan.
“Coba tanya murid, berapa jumlah penduduk China? Banyak yang tahu. Siapa presiden Amerika? Mereka hafal,” kata Pa Yanto sambil tersenyum.
“Tapi saat ditanya, berapa jumlah penduduk di RT kamu? Ketua RT-nya siapa? Nah, ini yang sering kosong.”
Lucu? Iya. Miris? Juga iya.
Fenomena ini menjadi bahan koreksi bersama: jangan sampai sistem pendidikan kita tercerabut dari akar budaya dan lingkungan sendiri. Murid mengenal dunia jauh, tapi asing dengan halaman rumahnya.
Sekolah Seharusnya Menyiapkan Hidup, Bukan Sekadar Ujian
Realita lain yang tak kalah tajam: murid sekolah dari pagi sampai sore, dijejali banyak mata pelajaran. Namun saat lulus, banyak yang bertanya dalam hati, “Pelajaran yang mana ya, yang bisa dipakai buat hidup?”
Pa Dadi tidak menampik kegelisahan itu. Justru dari sana, berbagai ide dan konsep dijalankan.
Salah satunya adalah kerja sama dengan Balawista (Badan Penyelamat Wisata Tirta) serta Badan Pengelola Geopark Pelabuhan Ratu Ciletuh. Murid dilatih menjadi life guard.
Kenapa life guard? Karena fakta di lapangan bicara: banyak korban tenggelam di pantai adalah anak usia SMP. Maka, minimal murid SMPN 1 Cisolok punya pengetahuan dasar penyelamatan air—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk menyelamatkan orang lain.
Dari Penonton Menjadi Pemain Pariwisata
Balawista bukan sekadar Kokurikuler. Ia adalah jawaban atas masa depan dunia kerja yang terus berubah, bahkan melahirkan profesi-profesi baru yang dulu tidak pernah terpikirkan.
“Aneh kan,” ujar Pa Dadi, “kalau ada tamu dari luar bertanya soal daerah sini, tapi murid asli sini malah tidak tahu.”
Inilah mengapa pendidikan kepariwisataan menjadi penting. Supaya ke depan, murid tidak hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri, tapi pemain utama dalam ekosistem pariwisata.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal nilai rapor semata. Tapi tentang mengenal diri, lingkungan, dan masa depan.
Tonton video keseruan bincang santai Pa Dadi Sugandi dan Pa Yanto Suryahadianto di Geopark Corner SMPN 1 Cisolok di sini: KONSEP GILA DARI KEPALA SEKOLAH DAN HRD nya! Banyak Pelajaran Di Sekolah, Setelah Lulus Gak Kepake?












