MillionBrainHub.com – Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi jika yang dikerjakan bukan membangun rumah, bukan membuka usaha, melainkan membuka jalan agar sebuah kampung bisa terhubung dengan dunia luar.
Itulah cerita warga Kampung Ciumbara, Desa Mekarjaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi.
Sejak 2022 hingga sekarang, warga secara swadaya dan bergotong royong membuka akses jalan yang sebelumnya hanya bisa dilalui sepeda motor.
Bukit ditaklukkan, lembah diterobos. Tenaga warga menjadi alat beratnya.
Jalan yang mereka buka memiliki panjang sekitar 1,2 kilometer dengan lebar 3 meter. Tujuannya sederhana: kendaraan roda empat bisa masuk dan warga tidak lagi merasa tinggal di kampung yang seolah terpisah dari fasilitas dasar.
Baca juga : 81 Tahun Indonesia Merdeka, Prof Armin: Jadilah Rakyat Yang Pendendam
Cerita perjuangan tersebut disampaikan oleh Ketua RT 24 Saepul Rohman, tokoh pemuda Derisman, petani Agus Sopandi, serta Ketua LPMD Hendra, saat berbincang mengenai kondisi akses jalan menuju Kampung Ciumbara.
Dari Jalan Motor Menjadi Harapan Jalan Mobil
Dulu, akses menuju Kampung Ciumbara memang sudah ada. Namun ukurannya hanya cukup untuk sepeda motor.
Bagi warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani, kondisi tersebut jelas bukan perkara sederhana.
Hasil pertanian harus dibawa melalui akses yang terbatas. Begitu juga ketika warga membeli kebutuhan pembangunan, bahan bangunan harus melewati medan yang tidak mudah.
Ironisnya, harga sebuah bahan bangunan bukan hanya soal harga di toko.
Ada “biaya tambahan” bernama perjuangan membawa barang sampai kampung.
Semen, pasir, batu, kayu dan berbagai kebutuhan lainnya harus melewati akses yang terbatas. Pembangunan rumah atau fasilitas warga pun menjadi jauh lebih mahal.
Kalau jalan bagus, ongkos angkut bisa dihitung.
Kalau jalan belum memadai, yang dihitung mungkin bukan lagi ongkos, tetapi tenaga, waktu dan kesabaran.
Kisah Warga Melahirkan yang Berakhir Tragis
Yang paling mengiris bukan sekadar sulitnya membawa hasil pertanian atau material bangunan.
Warga juga memiliki cerita tentang akses kesehatan yang begitu sulit.
Pernah ada seorang warga yang hendak melahirkan harus ditandu menggunakan sarung karena tidak ada akses kendaraan yang memadai.
Perjalanan menuju tempat pelayanan kesehatan pun menjadi perjuangan.
Namun perjalanan itu berakhir tragis. Warga tersebut disebut meninggal di perjalanan.
Cerita itu menjadi pengingat bahwa jalan bukan hanya soal kendaraan bisa lewat atau tidak.
Jalan bisa menjadi urusan keselamatan manusia.
Sebab ketika akses transportasi terbatas, jarak beberapa kilometer bisa terasa seperti puluhan kilometer.
Empat Tahun Warga Buka Jalan Sendiri
Sejak 2022, masyarakat tidak hanya menunggu.
Mereka bergerak dengan kemampuan yang dimiliki.
Selama kurang lebih empat tahun, warga bergotong royong membuka akses jalan sepanjang 1,2 kilometer dengan lebar sekitar 3 meter.
Tenaga masyarakat dikerahkan untuk menembus bukit dan lembah.
Ini bukan proyek dengan papan nama besar.
Tidak ada seremoni mewah.
Tidak ada panggung.
Yang ada adalah warga, cangkul, alat seadanya dan satu harapan: kampung mereka memiliki akses jalan yang layak.
Di tengah zaman ketika pembangunan sering identik dengan angka anggaran dan proyek besar, kisah warga Ciumbara justru menunjukkan sisi lain pembangunan.
Kadang masyarakat tidak meminta jalan tol.
Mereka hanya ingin mobil bisa masuk ke kampungnya.
Petani Juga Butuh Jalan
Bagi Agus Sopandi sebagai petani, akses jalan memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Hasil pertanian harus dikeluarkan dari kampung untuk dijual. Sebaliknya, berbagai kebutuhan pertanian juga harus dibawa masuk.
Semakin sulit akses, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.
Pada akhirnya, keuntungan petani bisa ikut tergerus hanya karena persoalan transportasi.
Petani menanam.
Petani memanen.
Tetapi ketika hendak membawa hasil panen keluar, jalannya masih menjadi persoalan.
Di sinilah jalan bukan sekadar infrastruktur, melainkan bagian dari rantai ekonomi masyarakat desa.
Warga Kini Meminta Pemerintah Turun Tangan
Setelah empat tahun berjuang secara swadaya, warga berharap pemerintah setempat dapat memberikan perhatian dan membantu menuntaskan akses menuju Kampung Ciumbara.
Warga sudah menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bisa meminta.
Mereka sudah memulai.
Mereka sudah bekerja.
Mereka sudah bergotong royong sejak 2022.
Kini mereka berharap pemerintah melanjutkan apa yang sudah dibuka oleh masyarakat.
Permintaannya pun sebenarnya sederhana: tolong bantu kami menyelesaikan jalan ini.
Sebab 1,2 kilometer mungkin hanya angka di atas kertas.
Namun bagi warga Ciumbara, angka itu adalah jarak antara kampung dengan akses kesehatan, pendidikan, perdagangan, pembangunan dan kesempatan ekonomi.
Empat tahun warga menembus bukit dan lembah.
Mungkin sudah waktunya pembangunan tidak hanya datang dalam bentuk wacana, tetapi benar-benar hadir dalam bentuk jalan yang bisa dilalui.
Tonton video selengkapnya di sini. 4 Tahun! Cerita Satu Kampung Menembus Bukit dan Lembah Agar Punya Akses Jalan | Tolong Kami











